Kesehatan

IMA World Dan JPK Sisir Pedesaan Kampanyekan RADPG Atasi Stunting

Foto : Ilustrasi

Sintang – Pemerintah Kabupaten Sintang menggandeng sejumlah pihak diantaranya IMA World Health untuk menekan angka anak stunting atau kerdil melalui Peraturan Bupati sebagai payung hukumnya

Berangkat dari sana IMA World Health bersama Jurnalis Perempuan Kalimantan Barat (JPK) menyisir pedesaan ponggiran Kota Sintang untuk mengkampanyekan RADPG Atasi Stunting.pada Minggu (11/2). Di desa Gemba Raya Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang.

Disampaikan Koordinator Provinsi Program IMA World Masri Aulia bahwa stunting masih menjadi tantangan besar pemerintah di bidang kesehatan pada 2018 mendatang.

Stunting adalah suatu kondisi yang merujuk pada tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dalam waktu cukup lama. Penyebab bayi mengalami stunting sangat kompleks mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, pengasuhan anak yang kurang tepat, faktor kondisi rumah, faktor infeksi, keamanan pangan dan air yang tak terjaga serta mutu dan gizi pangan yang buruk.

Menurut dia, sektor yang paling harus diintervensi pemerintah adalah kaitannya dengan keamanan pangan.

“Dari sisi kesehatan bagaimana bisa mengatasi stunting melalui bidang keamanan pangan seperti kurangnya infrastruktur air bersih. Saya lihat perlu ada investasi keamanan pangan,dari banyak sumber lah misalkan dari OPD terkait.

Ia melihat produksi pangan yang tidak sesuai kaidah Cara Produksi Pangan yang Baik (CPBB) menjadi tantangan keamaman pangan di Indonesia serta angka ibu menyusui yang masih rendah.

Menurutnya sipenderita stunting tersebut tidak dapat disembuhkan,yang bisa dilakukan yaitu pencegahan terhadap anak usia 0-1000 hari dimana usia tersebut harus mendapat asupan gizi yang maksimal hingga masa kelahiran 6 bulan.

“Balita yang sudah menderita stunting itu tidak bisa disembuhkan ,yang bisa dilakukan pencegahan bagaimana caranya? Perbanyak asupan gizi kepada ibu hamil dan menyusui,”terangnya dihadapan Kades Gemba Raya didampingi pihak Puskesmas Kebong.

“Berdasarkan data Surkesdes Kemenkes RI tahun 2013, stunting dialami oleh satu dari tiga balita yang lahir di Kalbar atau sebanyak 39.7 persen. Ini sungguh situasi yang mengkhawatirkan karena perkembangan otak dan fisik anak menjadi terhambat, yang akan mengakibatkan anak stunting di Kalbar akan mudah sakit dan juga sulit berprestasi,” katanya.

Stunting adalah ketika balita memiki tinggi badan lebih pendek dari standar tinggi badan anak seumurnya. Permasalahan stunting di Kalbar terjadi karena beberapa faktor antara lain, kurangnya pengetahuan dalam pemberian asupan gizi pada balita, dekatnya jarak antarkelahiran, kurangnya pemberian ASI eklusif, perilaku buang air besar sembarangan (BABS) serta kurangnya beragam pangan rumah tangga.

“Pengurangan stunting hanya dapat terjadi dengan perilaku hidup sehat yang didukung oleh kebijakan pemerintah daerah yang tepat dan infrastruktur di tingkat masyarakat, melihat dimensi permasalahan yang luas, mengatasi stunting harus dengan pendekatan multi sektor dengan sistem kerja yang terpadu,” ujarnya.

Kesempatan itu JPK juga menanyakan fasilitas kesehatan ,potensi pangan dan jumlah KK dan pendukung lainya.

Kades Gemba Raya Petrus Nian mengaku sejauh ini fasilitas kesehatan didesanya yang awalnya satu posyandu kini sudah dikembangkan menjadi tiga posyandu dan masing -masing posyandu ada 5 kader secara langsung pihaknya juga menyisipkan anggaran posyandu tersebut melalui dana desa.

“Sedari dulu kita selalu sisihkan anggaran dana desa untuk posyandu apalagi sekarang posyandu kita sudah tiga kelompok yang dulunya hanya satu kelompok,”ujarnya.

Terkait kost anggaranya tidak ditentukan jumlahnya hanya saja ketika rembug Musrenbangdes sesuai kebutuhan yang diusulkan.

“Pagu yang digunakan sebelum diketok lalu juga harus seijin dan melalui verifikasi tingkat kecamatan jika tingkat kecamatan memperbolehkan dari jumlah yang kita usulkan baru kita pergunakan,”tuturnya.

Apalagi untuk saat ini anggaran untuk Generasi Sehat Cerdas (GSC) sudah tidak ada lagi maka pihaknya harus menyisihkan melalui ADD,di tahun 2017 lalu sebanyak Rp.5 juta.

Ditanya soal tuntutan OPD hingga ketingkat desa,untuk gencar mensosialisasikan stunting,pihaknya mengaku sangat intens terhadap kesehatan anak.

“Saya siap kampanyekan dan menyambut baik ,memang dari dulu soal kesehatan ini menjadi pemikiran saya,jika anak sehat maka dia akan tumbuh kembang menjadi pemimpin yang baik dan sehat,”pungkasnya.

Usai menyambangi kades rombongan menyempatkan diri menyambangi bayi sehat didesa kebong kelam permai.

Penulis : Susi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top