Makan Seprahan Tradisi Khas Melayu Kalbar

Makan Seprahan Tradisi Khas Pontianak Kalimantan Barat ( Doc Foto : Ngaderi/Delikkalbar.com)

PONTIANAK – Masyarakat Melayu Kalbar-khususnya di Pontianak, Mempawah, dan Sambas-mengenal istilah saprahan. Tradisi makan saprahan biasa ditemui pada upacara perkawinan, acara adat keraton, khitanan, syukuran hingga festival budaya Melayu Kalbar. Di Sambas, tradisi saprahan sangat kental dengan budaya gotong royong masyarakat setempat. Untuk membuat acara perkawinan dibutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk segala persiapan, mulai dari memasang tenda untuk memasak, tempat acara serakalan, panggung tanjidor, dan tempat para undangan melakukan saprahan. Setelah acara berakhir, maka warga kembali bahu-membahu merobohkan tenda yang dibangun tadi, mengembalikan piring untuk makan saprahan dan lain sebagainya. Dari segi biaya, tentu biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai tiga kali lipat dari acara perkawinan makan prasmanan pada umumnya. namun, karena dikerjakan secara ikhlas bersama-sama, maka acara tersebut terasa ringan.
Menu makan saprahan di Sambas dengan di Pontianak sedikit berbeda. Jika pada masyarakat Sambas, menu saprahan biasanya terdiri dari nasi putih dengan lauk berupa ayam masak rempah, daging sapi masak kecap, kulit sapi (kikil) dengan kuah kacang, sop, telur, nanas dimasak manis dan lain sebagainya, maka pada acara saprahan masyarakat Melayu Pontianak, terutama pada kerabat Istana Kadariyah yang masih keturunan Arab, menu saprahan biasanya berupa nasi putih atau Nasi Kebuli, semur daging, sayur Dalcah, sayur pacri nenas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang, air serbat dan kue tradisional khas Pontianak. 

Satu ‘tim’ saprahan terdiri dari lima sampai enam orang, yang duduk melingkar atau memanjang sehingga dalam makan saprahan diperlukan sikap sopan santun dan kekeluargaannya yang sangat kental. Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah yang berwarna putih atau kuning emas (bagi kerabat Istana Kadariyah Pontianak. Pada tradisi saprahan masyarakat Melayu Pontianak, pria dan wanita duduk terpisah. Pada tradisi saprahan yang diadakan di istana Kadariyah, kaum lelaki diwajibkan memakai pakaian Telok Belanga dan kaum wanita memakai Baju Kurung.
Peralatan dan perlengkapan dalam adat seprahan mencakup kain saprahan, piring makan, tempat kobokan beserta serbet, mangkok untuk nasi, mangkok untuk lauk pauk, sendok untuk nasi dan lauk serta gelas minuman. Bahkan, untuk proses menghampar dan menyajikan hidangan saprahan, tidak hanya sekadar meletakkan di atas kain seprahan. Ada ketentuan adat yang harus dilakukan, misalnya pakaian yang dikenakan petugas yang menyajikan hidangan, cara berjalan, duduk serta bergerak maju mundur dan lainnya. Petugas penyaji hidangan saprahan tidak boleh membelakangi tamu yang hadir.
Makna Tradisi Saprahan
Dalam tradisi makan saprahan, banyak terkandung makna mengenai cara bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan dalam sebuah acara, dan juga diajarkan bagaimana sikap duduk yang baik, di mana kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk berselimpuh. Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah berwarna putih atau kuning cerah. 
Tradisi saprahan ini, sesungguhnya mengandung makna duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sebagai wujud kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan sosial serta persaudaraan. Itulah sekilas info mengenai Saprahan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top