Kai Api Mantan Atlet Lari Sekarang Mahir Bermain Api

KALTENG - Pagi itu, sambil menunggu jadwal penerbangan ke Bandung, saya mengajak lelaki berkepala plontos itu makan. Walaupun sudah teramat sering bertemu dan dua kali terakhir menyertai beliau dalam misi kesenian ke luar daerah, kesempatan makan bersama dan hanya berdua ini benar-benar membuat saya lebih dalam mengenal siapa sesungguhnya lelaki ini.

Tubuhnya tidak terlalu besar. Malah terlihat mungil dan tampak kurusan. Namun, pada lengan dan dadanya masih terlihat otot-otot, yang apabila diperagakannya akan menonjol. Kulit tubuhnya legam, tetapi tampak bersih. Bisa jadi karena sering berlumur minyak tanah saat atraksi. Dialah sosok Kai Api, demikian orang di Banjarmasin dan sekitarnya, menyebutnya.

Sebutan Kai Api menenggelamkan nama aslinya, yaitu M. Arsyad. Ini karena lima belas tahun terakhir ini kesehariannya akrab dengan api. Dengan sebuah gerobak, obor, dan alat penunjang lainnya, Kai sangat cekatan memainkan api pada seluruh bagian tubuhnya. Padahal sebelumnya, beliau adalah atlet lari Asia. Prestasi puncaknya juara 2 lari 10 km se-Asia di Jakarta, tahun 1989.

Walaupun takterdengar keluhan atas hidupnya sekarang ini, tetapi saya tetap merasa miris mendengar cerita Kai berusia 79 tahun, dengan 10 anak, dan 29 cucu ini. Beliau harus mengisi masa pensiunnya sebagai atlit dengan ngamen bermain api. Hal itu dilakukannya sejak merasa kemampuan larinya mulai menurun dan tentu untuk menyambung hidup sehari-hari.

Sepanjang karir atletnya, Kai api pernah menerima uang tali asih cukup besar saat itu dari Gusti Hasan Aman, Gubernur Kalsel, 1995-2000, yaitu sebesar 5 juta. Uang itu dibelikannya sepetak tanah dan dibuatkan rumah sewaan. Kini, setiap Sabtu dan Minggu, Kai bermain api di Siring Tendean. Selebihnya di rumah sambil menatap 38 medali emas dan perak serta 68 tropi monumen hidupnya.

Ada banyak orang di negeri ini, di provinsi ini, di kota ini, yang nasibnya kurang lebih seperti Kai Api. Mereka adalah paraatlet, seniman, dan pejuang yang dulunya banyak memberikan sumbangsih bagi bangsanya, sekarang, di masa tuanya, diabaikan. Bahkan, bisa juga disebut, dilupakan hingga harus tertatih tatih berjuang sendiri.

Negeri ini takpernah mendokumentasikan dengan baik prestasi anak bangsa. Mereka hanya dicatat dan diingat pada saat puncak prestasi. Selanjutnya, ketika mereka ‘pensiun’ catatan itu entah diarsipkan di mana. Dan ketika pejabat yang bertanggung jawab soal itu berganti berkali-kali, nama-nama mereka pun hilang seperti takberbekas.

Ada beberapa contoh atlet nasional yang di masa pensiunnya sangat prihatin. Sebutlah Tati Sumirah, atlet pertama peraih piala Uber Bulu Tangkis 1975, sekarang buruh di pabrik Oli. Ellias Pical, petinju profesional pertama juara dunia OPBF 1984, menjadi satpam dan tersandung kasus kriminal. Begitu pula, Soeharto, atlet Balap Sepeda medali emas Sea Games 1979, menjadi tukang becak.

Lebih menyedihkan lagi paramantan pejuang, yang berjasa dan berdarah-darah merebut, mendirikan, dan mempertahankan republik ini. Mereka hanya dihadirkan ketika 17-an dan duduknya jauh dari bangku VIP parapejabat. Begitu selesai acara, dengan bingkisan kecil, mereka ada pulang naik ojek atau dijemput keluarga. Jauh dari kemewahan mobil yang membawa pulang parapejabat.

Apa karena status paraatlet, seniman, pejuang itu adalah pekerjaan mana suka, yang memang kebanyakan atas inisiatif sendiri dan berstatus swasta murni, sehingga seperti anak tiri, yang takdisertakan dalam segala fasilitas dan layanan pemerintah? Lantas, apakah parapejabat kastanya lebih tinggi dan bekerjanya lebih ikhlas di mata pemerintah sehingga disayang bak anak kandung?

Semestinya pemerintah juga mempersiapkan kehidupan paraatlet, seniman, dan pejuang di masa pensiunnya. Setidaknya kepada mereka disediakan anggaran untuk ‘dana pensiun’ yang besarnya sebanding dengan prestasinya. Persis seperti perlakuan yang diberikan kepada mantanpejabat di pemerintahan, di parlemen, maupun di BUMN yang jauh-jauh hari sudah disiapkan.

Saya pikir ini bukan sekadar soal nasib, yang sewenang-wenang bisa ditentukan hanya karena statusnya. Kai Api, paraatlet, seniman, dan pejuang yang di masa tuanya harus berjibaku untuk hidup, semestinya mulai dipelihara oleh negara. Ini agar kita disebut sebagai bangsa yang pandai berterima kasih dan bukan gampang habis manis sepah dilupakan.

(Iwan)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.