Kesehatan

Tolong..! Aji Bocah Penderita Hidrosepalus Butuh Uluran Tangan

Sintang - Zainur dan anaknya Aji Saputra tertawa riang saat Ikatan Jurnalis Sintang (IJS) menyambangi rumahnya.pada Senin,(4/6) Aji Saputra menderita Hidrosefalus sejak berusia tiga bulan. Upaya operasi sudah dilakukan dan berhasil. Kepalanya tidak membesar seperti pada kasus penderita penyakit yang sama. Hanya saja, usai dioperasi kondisi bocah (6,5) ini tak kunjung membaik,

Sarafnya seperti lumpuh dan sebagaian anggota tubuhnya kaku dan layu.

Aji Bocah Penderita Hidrosefalus
Cobaan itu datang setelah usianya tiga bulan setelah kelahiran. Bocah malang itu didiagnosa menderita Hidrosefalus.

AJI Saputra tidur pulas di atas karpet permadani ketika kami tiba di rumahnya. Sebagian tubuhnya diselimuti sarung. Posisi tubuhnya miring ke kiri. Mulutnya menganga. Tak jarang air liurnya menetes ke bantal yang tampak usang itu.
Tidur Aji, tak banyak bergerak. Hanya pada posisi yang sama: Kaki sebelah kirinya menekuk hingga ke belakang betis kaki kananya yang masih lurus. Pergelangan tangan kanannya menekuk. Sementara satunya lagi mengepal.

Ketika terbangun, Aji hanya berkedip menyambut kedatangan kami.
Zainur Rahim, ayah Aji menatap lekat anak semata wayangnya. Ia berusaha tegar, meski didera cobaan hidup bertubi-tubi: Anak menderita Hidrosefalus, ditinggal kabur istri hingga ibu yang menderita tumor usus.
Semula, Aji terlahir sempurna secara fisik. Seluruh anggota tubuhnya normal seperti bayi pada umumnya. Keanehan justru muncul setelah usia Aji berusia tiga bulan. Zainur melihat ada keanehan pada kepala anak lelaki yang berhidung mancung dan putih tersebut.

Zainur melihat kepala Aji menjadi lebih besar dibandingkan dengan bayi pada umumnya. Warga Dusun Sidodadi, Desa Manter, Kecamatan Sungai Tebelian ini lekas memeriksakan keadaan Aji ke RSUD Ade M Djoen Sintang kala itu.
Setelah diperiksa secara komprehensif, Aji didiagnosa menderita Hidrosefalus Penyakit yang disebabkan oleh penumpukan cairan pada rongga otak yang dapat menyebabkan otak membesar dan menekan jaringan otak sekitarnya. Dokter kala itu menganjurkan Aji untuk dirujuk ke Pontianak guna dioperasi.

Demi sang buah hati, Zaini menyanggupi saran dokter. Jalan keluar demi kesembuhan anak semata wayangnya dilakukan meski harus merogoh biaya Rp 40 juta rupiah. Bukan nominal yang kecil bagi Zaini yang bekerja serabutan ini. Dia harus pontang-panting menyayat getah dan juga pekerjaan kasar lainnya.

Tahun 2013, Aji dilarikan ke Pontianak. Di sana, bayi Aji mendapatkan pengobatan utama Hidrosefalus adalah melalui operasi. Tujuannya adalah untuk membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak. Salah satu jenis operasi yang biasanya diterapkan pada kasus hidrosefalus adalah operasi pemasangan shunt (Selang khusus).

Selang khusus itu dipasang oleh ahli bedah dalam kepala guna mengalirkan cairan otak ke bagian tubuh lain dan diserap oleh pembuluh darah. Cairan serebrospinal dibuang dengan cara menciptakan lubang penyerapan baru di permukaan otak.

“Ini bekas operasinya. Di dalamnya ada selang,” kata Zaini menunjuk permukaan kepala Aji yang sedikit menonjol yang tak ditubuhi rambut. Seharusnya, selang khusus perlu diganti seiring pertumbuhan Aji. Prosedurnya sebanyak dua kali sebelum Aji menginjak usia 10 tahun. “Selang dianjurkan ganti. Tapi kami tidak punya biaya,” katanya pasrah.

Seluruh anggota tubuhnya tampak layu. Untuk menggerakkan kepalanya saja tampak sulit ketika Zainur membopong dan mendudukannya di pangkuannya. Kakinya menyilang kaku. Begitu pula dengan kedua tangannya.
Sebenarnya, anggota tubuh Aji belum sepenuhnya kaku. Otot sarafnya seperti tak berfungsi normal seperti manusia pada umumnya. Kedua kakinya yang menekuk masih bisa dibenarkan,meski kembali menekuk dan menyilang ke belakang kaki satunya. Pergelangan yang menekuk juga demikian. Jemarinya juga bisa digerakkan.

Zainur mengaku tidak punya banyak waktu membimbing anaknya untuk banyak bergerak. Waktunya habis untuk mencari nafkah. Pagi-pagi sekali, dia sudah pergi ke kebun karet untuk menoreh. Siang dia baru pulang. Itupun jika tidak ada kerjaan tambahan.

Selama Zainur bekerja, Aji dijaga oleh adik serta keponakannya. Tiga tahun sebelumnya, Juwaiyah neneknya ikut menjaga dan menyiapkan segala keperluan Aji. Namun, kini tak bisa lagi. “Nenek menderita tumor usus. Habis operasi juga,” kata Zainur.

Derita Aji bertambah saat usianya dua tahun. Bukanya merawat Aji dengan penuh kasih sayang layaknya perlakukan ibu terhadap anaknya, Istri Zainur, ibu kandung Aji justru kabur meninggalkan darah dagingnya di saat sang suami butuh dukungan moral. Sang istri memilih angkat tangan dan meninggalkan tanpa kabar berita. Mirisnya lagi, si Ibu meyebut bersedia merawat apabila dibayar.

“Dia (mantan istri Zaini red) pernah bilang siap merawat kalau digaji 2 juta,” celetuk salah seorang keluarga yang diamini Zainur.
Sekarang, usia Aji sudah 6 setengah tahun. Akan tetapi, berat badannya hanya 13 kilogram saja. “Masuk dalam kategori gizi buruk,” kata Rini Kurniawati, bidan desa yang setia menjenguk dan melihat perkembangan Aji.

Rini sudah 18 tahun mengabdikan diri di Dusun Sidodadi, Desa Manter, Kecamatan Sungai Tebelian ini rutin ke rumah Zainur, bersama kader Posyandu. “Kasian lihatnya. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu. Paling tidak ada yang membawanya periksa ke dokter ahli saraf. Kalau seperti ini, kasian. Keluarga juga tidak tahu harus ke mana, terkendala biaya juga,” katanya.

Sujangi, Ketua Rt setempat mengaku prihatin dengan kondisi Aji. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh warga desa untuk meringankan beban Zainur. “Kami cuma bisa melihat. Kami sudah berusaha semampu kami. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya,” harapnya.

(Sus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top