Pendidikan

Madrasah Ibtidaitah Al Fajri Sekolah Gratis

Sintang – Madrasah Ibtidaiyah Al Fajri adalah salah satu lembaga pendidikan setingkat sekolah dasar (SD) yang mempraktekan pendidikan “gratis” bagi siswa-siswinya. Tidak hanya sekedar biaya pendaftaran atau kebutuhan untuk operasional sekolah pada umumnya lainnya, namun sekolah yang baru berusia 7 tahun pada 12 Juli lalu ini juga memberikan seragam gratis kepada para murid barunya.

“Semua biaya yang kita keluarkan untuk kegiatan dan operasional proses belajar mengajar di sekolah ini di biayai oleh ummat. Termasuk gaji guru. Kami tidak memungut se rupiahpun dari orang tua murid untuk biaya sekolah di sini,”ungkap M. Taupan, kepala MIS Al Fajri saat ditemui media ini Senin, (23/07).

Lebih lanjut M.Taupan menuturkan bahwa untuk keperluan operasional sekolah dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar, pengurus masjid Al Fajri bersepakat untuk menggunakan dana infaq yang di dihimpun dari jamaah sholat Jumat setiap minggu. Setidaknya dalam sekali jumatan, dana yang terkumpul bisa mencapai Rp 2-3 juta. Menurutnya pengurus masjid berpikir bahwa dana ummat harus dikembalikan kepada ummat, agar lebih bermanfaat dan bisa meningkatkan kesejahteraan ummat.

“Alhamdulilah mesikpun dana infaq Jumat digunkan untuk pengelolaan sekolah ini, namun jumlah penyumbang ke masjid ini justru semakin banyak. Bahkan kami telah membangun masjid yang ukurannya lebih besar. Ini jadi salah satu tanda, bahwa jamaah yang gemar berinfaq ke masjid ini rezekinya terus ditambah dan ditambah. InshaAllah,”katanya.

Hingga saat ini jumlah murid di MIS Al Fajri telah mencapai 220 anak, yang terdiri dari kelas 1-6. Sekolah ini juga telah meluluskan angkatan pertama dan semuanya di terima di SMP negeri di kota sintang ini. Bahkan menurutnya tahun ajaran baru ini, pihaknya terpaksa tidak menerima 20 anak yang didaftarkan masuk ke sekolah ini.

“Karena memang sudah tidak ada ruangan dan kelas 1 saja kita terpaksa buat 2 kelas dengan jumlah murid 33 anak,”jelas M.Taupan.

Hal ini menurut M.Taupan agak berbeda dengan kondisi 7 tahun lalu saat pertama MIS Al Fajri di buka. Untuk mendapatkan 13 murid saja, pihaknya harus mencari dan mengumumkan kepada jamaah sholat Jumat agar anak-anak mereka di sekolah di MIS Al Fajri.

Di usianya yang ke 7 tahun, berdasarkan sistem penilaian SISPENA (sistem informasi penilaian akreditasi berbasis web), MIS Al Fajri telah mendapatkan score 92 point. Artinya sekolah ini sudah layak untuk mengikuti akreditasi sekolah.

“Karena sekolah ini adalah sekolah yang didanai Ummat dan dikembalikan ke ummat dalam bentuk pendidikan, maka ke depan untuk penerimaan siswa baru akan diberlakukan yang namanya infaq silang. Harapannya dengan program itu, maka sekolah ini akan terus berkembang dan mampu menjadi lembaga pendidikan piliham utama pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak mereka,”tegasnya.

Yuli, orang tua dari murid yang tengah menunggui anaknya keluar dari kelas mengatakan memilih MIS Al Fajri untuk tempat pendidikan anaknya dengan pertimbangan keutamaan pendidikan agama dan masalah biaya. Ibu tiga anak ini sanggup berkendara sejauh belasan Kilometer dari daeah ke Kelam untuk mengantarkan 3 buah hatinya.

“Masalah biaya jadi persoalan juga. Karena ada 3 anak yang harus di sekolahkan, maka kami memilih sekolah ini. Pihak sekolah memberikan seragam batik dan olahraga kepada siswa dengan cuma-cuma. Kami para orang tua tinggal berpikir seragam putih merah dan pramuka serta alat tulis menulis saja,”jelasnya.
Berbeda sedikit dengan Jamilah, warga desa Sungai Ana. Ia terpaksa memindahkan anaknya ke MIS Al Fajri lantaran anaknya kerap mendapatkan kekerasan dari teman-temannya di sekolah lama. Selain itu menurutnya anaknya kerap mendapatkan pengaruh buruk dari teman-teman sekolahnya, baik dari sisi bahasa maupun tingkah laku.

“Saya ingin anak saya mendapatkan pelajaran agama lebih banyak. Karena di sekolah lamanya paling di sekolah hanya 2 jam. Masuk jak 7 atau 8 kemudian jam 10 pulang. Alasan lainnya karena saya tidak ingin anak saya mendapatkan pengaruh buruk dari teman-teman sekolahnya di sekolah lama yang menurut saya itu sangat berbahaya bagi anak masa depan anak saya,”bebernya.

Selain dana umat sekolah tersebut juga dibantu Kementerian Agama Sintang melalui Dana BOS sejak tahun 2012 lalu.

“Selain dana umat kita juga dapat bantuan dari Kemenag rutin tiap tahun dari 2012 tahun lalu melalui Dana BOS dan hirunganya per siswa,” pungkasnya.

Loading...

(sus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top