Hukrim

Berulang Kali Cabuli Anak Kandung, Pelaku Ditangkap Polisi Matan Hilir

KETAPANG – Tega gauli anak kandungnya sendiri AG (44) warga Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) Kabupaten Ketapang diringkus

Kepolisian Sektor Matan Hilir Selatan (MHS) atas perbuatannya menggauli anak kandungnya sendiri RF (14).

Dari pengakuan RF kalau dirinya pertama kali digauli ayah kandungnya sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD).

Saat dikonfirmasi, RF (14) yang terlihat tampak lemah, didampingi sang bibi mengaku sudah lama menahan derita akibat perlakuan ayah kandungnya.

Ia menceritakan pertama kali perbuatan keji dilakukan ayah kandungnya saat dirinya masih duduk dibangku SD sedangkan saat ini dirinya sudah duduk di Kelas VIII.

RF melanjutkan, perbuatan yang dilkukan oleh pelaku bukan hanya sekali melainkan sudah berulang kali bahkan dilakukan dalam satu minggu pelaku selalu melakukan hal yang tidak pantas kepada dirinya. Dan diakuinya semua dilakukan pelaku didalam kamar sementara ibunya tidak tahu karena lagi sakit.

Dikisahkannya, kalau selama diperlakuan seperti itu, pelaku kerap mengancam akan membunuh dirinya jika memberitahu kepada ibu atau keluarga lainnya.

“Jadi saya ikuti apa yang bapak bilang karena saya takut dibunuh,” ucapnya.

RF mengaku trauma atas kejadian yang dialaminya bahkan merasa malu dengan teman-temannya dan tetangganya.

JR (50) yang merupakan bibi korban atau adik kandung ibu korban ketika dikomfirmasi mengaku tak menyangka kalau pelaku tega melakukan hal tersebut kepada keponakaanya.

Ia menjelaskan kalau aksi bejat pelaku terungkap lantaran kepergok langsung olehnya yang saat kejadian usai mengurusi kakaknya atau ibu korban yang sedang sakit.

“Waktu itu bulan puasa, siang hari seingat saya habis memberi makan dan memandikan kakak saya. Saat itu kakak saya mau tidur pindah ke dapur. Setelah tidur saya mau pulang kerumah berdekatan dengan rumah kakak saya”.

“Selangkah keluar pintu rumahnya, saya seperti ditarik kedalam, tapi sekali dilihat tidak ada, kemudian perasaan tidak enak saya masuk lagi kedalam rumah kemudian melihat didalam kamar pelaku tengah berkerenah (melakukan hubungan-red) dengan korban,” terangnya.

“Saat itu pelaku meminta maaf dan mengaku baru pertama kali melakukan dan berjanji tidak akan melakukan hal serupa lagi,” akunya.

Ia menerangkan, kalau kejadian sempat ditutupinya dari sang kakak yang masih terbaring sakit lantaran menunggu kondisi kesehatan kakaknya membaik, namun berjalan waktu kondisi kesehatan kakaknya masih belum membaik hingga akhirnya dirinya memanggil korban untuk menceritakan kejadian dihadapan kakaknya atau ibu korban.

“Setelah lebaran baru saya panggil korban menceritakan kepada ibunya, namun korban tidak mengaku, kemudian saya panggil ipar saya (pelaku-red) dan dia juga menyangkal hingga akhirnya saya meminta ia bersumpah diatas al-qur’an barulah pelaku mengakui perbuatannya,” terangnya.

Ia menambahkan, setelah berjalan waktu dan melalui koordinasi bersama pihak keluarganya yang lain, akhirnya pihak keluarga sepakat melaporkan kejadian ke Polsek MHS sehingga pelaku akhirnya diamankan anggota Polsek.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Ketapang, AKBP Yuri Nurhidayat membenarkan bahwa saat ini pihaknya telah mengamankan pelaku dan telah berada di Mapolres Ketapang untuk pemeriksaan hukum lebih lanjut.

“Tersangka sudah diamankan di Mapolres Ketapang,” kata AKBP Yuri Nurhidayat.

“Setelah kejadian itu, akhirnya pelaku mengakui perbuatannya kemudian saksi menyampaikan kejadian kepada saudara-saudara lainnya, namun pada saat akan dilaporkan ke kepolisian pelaku sudah pergi bekerja ke wilayah Air Upas sehingga laporan batal. Setelah pelaku pulang akhrinya dilaporkan kepada anggota kita di Polsek MHS pada Rabu 1 Agustus untuk kemudian ditindak lanjuti dan diamankan,” terangnya.

Akibat kejadian ini, pelaku dijerat dalam pasal 81 ayat 1 dan 2 dan pasal 82 ayat 1 dan 2 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara ditambah sepertiga dari ancaman pidana lantaran pelaku merupakan orangtua korban.

(Wan)

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top