Travel

Asisten III Sekda Lepas Pawai Naga dan Barongsai Kota Pontianak

Pontianak - Asisten III Sekda Kalbar Marlina bersama Plt Kadisdikbud Kota Pontianak H Syahdan, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, Dandim 1207/BS Letkol Arm Stefie Tanjte Nuhujana, Kolonel Inf A Nurdin, Letkol Laut Anwar,  Swandono Adijanto dan Ny Swandono Adijanto, The Iu Sia, Ketua KBTP Hendry Pangestu Lim,  Ketua Panitia Bong Djie Sen melepas pawai Naga dan Barongsai dalam rangka memeriahkan Cao Go Meh Pontianak di Panggung Utama di Jalan Diponergoro, Selasa (19/2).

Pelepasan Pawai Naga dan Barongsai ditandai dengan pelepasan Burung Merpati oleh Marlina bersama H Syahdan, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, Letkol Arm Stefie Tanjte Nuhujana, Kolonel Inf A Nurdin, Letkol Laut Anwar, Swandono Adijanto dan Ny Swandono Adijanto, The Iu Sia, Hendry Pangestu Lim dan Bong Djie Sen.

Dalam pawai naga dan barongsai ini terdapat 26 naga dan 43 barongsai yang ikut dalam Pawai Naga dan Barongsai untuk memeriahkan Cap Go Meh Pontianak.

"Peserta pawai dilepas dari jalan Diponegoro menuju jalan Gajah Mada dan finish di jalan Budi Karya," kata Bong Djie Sen.

Bong Djie Sen juga berharap, tahun depan Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak dapat dipercaya oleh Pemkot Pontianak untuk menjadi Panitia Cap Go Meh lagi.

"Tahun depan, apabila kami dipercayai oleh Pemkot Pontianak menjadi panitia Cap Go Meh lagi, kami akan rayakan Cap Go Meh lebih meriah dari sebelumnya. Mohon dukungan semua pihak," ajaknya.

Menurut Wali Kota Pontianak H Edi Rusdi Kamtono perayaan Cap Go Meh ini merupakan agenda tetap tahunan Kota Pontianak, dilaksanakan secara meriah, menghibur masyarakat Kota Pontianak.

"Dengan perayaan semacam ini, budaya Cap Go Meh yang merupakan warisan leluhur masyarakat Tionghoa ini tergali, terpelihara, dikembangkan, tersosialisasikan dengan baik pada generasi muda kita," kata Wali Kota Pontianak dalam sambutan yanh disampaikan Plt Kadisdikbud Kota Pontianak H Syahdan.

Dikatakannya, kegiatan ini dapat juga memberikan inspirasi kepada generasi kita, untuk mncintai kekayaan budaya yang ada, mengembangkannya kearah yang positif, sehingga melalui multi player effeknya,
dapat mendukung terciptanya lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan Masyarakat Kota Pontianak khususnya dan Provinsi Kalbar pada umumnya.

"Sejarah telah membuktikan, sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, keharmonisan suku bangsa di Kota Pontianak telah terbangun," jelasnya.

Dijelaskannya, masyarakat Tionghoa sudah
merupakan bagian dari masyarakat Kota Pontianak, kekayaan kultur yang berbeda di Kota Pontianak bukan suatu masalah bagi kita untuk tumbuh bersama, membangun kota ini, menuju kearah yang lebih baik lagi kedepannya.

"Ini dapat kita saksikan hingga saat ini, yaitu dengan terselenggaranya pelaksanaan Cap Go Meh di setiap tahunnya secara meriah, serta menghibur berbagai tingkatan lapisan masyarakat Kota Pontianak khususnya dan wisatawan yang datang di Kota Pontianak," jelasnya.

Atas dasar saling menghargai dan saling menghormati hal ini mencerminkan bahwa kehidupan bermasyarakat di Kota Pontianak sesuai dengan ketentuan yang
diamanahkan dalam Ketetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1965 yang telah diundangkan oleh undang-undang nomor 5 tahun 1969; dalam
penjelasan pasal 1 alenia 1, yang menyatakan bahwavagama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu.

"Pemerintah berkeyakinan, bahwa ajaran-ajaran agama sumber moral dan sumber motivasi yang tidak pernah kering, dan secara terus menerus mendorong pemeluknya untuk menjadi manusia yang
bermoral baik, mempunyai integritas kepribadian dan semangat membangun ke arah yang lebih baik.

"Mari kita pelihara semangat persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara, semangat senasip dan sepenanggungan,
kecintaan dan kebanggaan terhadap Kota Pontianak. Mari kita terus bekerja dan membangun kemakmuran untuk kesejahteraan Kota Pontianak," ajaknya.

Sementara itu, Gubernur Kalbar H Sutarmidji mengatakan Perayaan Cap Go Meh senantiasa dinantikan oleh
masyarakat etnis Tionghoa, Cap Go Meh dalam dialek Tiou Ciu dan Hokkian berarti malam ke 15 dan merupakan hari terakhir perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa.

"Perayaan ini telah tumbuh, berkembang dan mengakar sebagai kekayaan budaya tradisi yang harus tetap dipertahankan
dan dilestarikan karena banyak terkadung nilai-nilai budaya luhur yang diwariskan secara turun temurun," kata Gubernur Kalbar dalam sambutan yang sampaikan Asisten III Sekda Kalbar Marlina.

Dikatakannya, atraksi naga merupakan sebuah karya penting dalam sebuah kebudayaan dan tradisi Tionghoa
yang telah tersebar diseluruh dunia, yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran, sedangkan Barongsai
merupakan tarian yang menggabungkan seni, sejarah dan gerakan kungfu, dengan menggunakan kostum yang menyerupai singa.

"Tarian barongsai memerlukan kerjasama dan kekompakan dengan diiringi suara pukulan simbal, gong dan gendang yang menghasilkan irama musik khusus, sehingga "singa" tersebut terlihat hidup. Simbol singa melambangkan keberanian, kekuatan, keunggulan, keberuntungan, dan kemakmuran," jeasnya.

Saat ini barongsai telah dilombakan, Federasi Olahraga Barongsai Indonesial FOBl yang menaungi kesenian Barongsai telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesial, dimana pemain barongsai dapat
disebut sebagai atlet barongsai.

"Hal ini patut diapresiasi, dengan adanya akulturasi budaya menambah khasanah Budaya Indonesia dalam Binneka Tunggal ika," jelasnya.

Provinsi Kalbar memiliki wilayah yang cukup luas dengan ragam budaya dari etnis yang ada di tanah air, latar belakang sejarah, kepercayaan, ragam suku, agama, budaya, bahasa, adat istiadat tersebut
umumnya tumbuh dan berkembang ditengah-tengah mayoritas masyarakat Melayu, Dayak dan Tionghoa menjadikan Kalbar semakin kaya.

Dari keberagaman tersebut masyarakat Kalbar terus memelihara, menjaga dan merawat persatuan, persaudaraan dan kerukunan. "Kemajemukan penduduk membuat daerah ini menyimpan potensi budaya yang unik dan beraneka ragam sehingga apabila dikemas dan dikelola dengan baik, akan menjadi aset yang bernilai tinggi guna meningkatkan pembangunan, perkembangan daerah dan kesejahteraan masyarakat baik dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya," ujarnya.

(Lay)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top