Nasional

Diduga Tertipu 8 Warga Bantaeng Terlantar di Entikong

Foto: Delapan Warga Bantaeng Saat Berada di Mapolsek Entikong.

SANGGAU - Delapan warga Bantaeng, Sulawesi Selatan yang menjadi korban penipuan penyalur tenaga kerja ilegal terkatung-katung menunggu kejelasan nasib selanjutnya di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Kedelapan warga Sulsel yang terdiri dari dua perempuan, lima pria dan satu anak-anak tersebut, sementara ini ditampung di Mapolsek Entikong. Kondisi para korban saat ini cukup memprihatinkan, beberapa diantaranya bahkan jatuh sakit.

"Niat awalnya mau ke Malaysia, cuma karena tidak ada dokumen. Dari P4TKI pernah tanya masih mau kerja ke Malaysia atau tidak, katanya kalau ada perusahaan disana mau kerjakan bisa nanti kerja kesana," ungkap Saharudin, salah seorang korban, Jumat (8/3/2019).

Saharudin menuturkan, setelah menunggu sekitar sepuluh hari belum ada ada kejelasan mengenai job order. Lelah menunggu di penampungan dan biaya hidup mulai menipis, Saharudin dan teman-temannya berniat pulang kampung ke Bantaeng.

"Kita ini biaya sendiri, sekarang uang kita habis. Ini kita minta pulang lah. Kondisi kita kurang baik, kemarin diperiksa ada yang sakit," katanya.

Sementara itu, Waka Polsek Entikong Iptu Eeng Suwenda mengatakan ke-delapan warga Bantaeng tersebut dipersilahkan pulang jika memiliki biaya. Polsek, imbuh Eeng, hanya bisa mengkoordinasikan keinginan Saharudin dan rombongannya.

"Kita sudah koordinasi dengan P4TKI dan Dinsos Kalbar terkait keberadaan delapan warga Sulsel ini, sampai saat ini belum dapat kabar apakah mereka ditanggung kepulangannya atau tidak. Polsek tidak bisa memfasilitasi pemulangannya, karena di kami tidak ada pagu untuk pemulangan TKI," ujar Eeng.

Waka Polsek Entikong ini menambahkan, meskipun para korban tersebut pulang ke daerah asalnya proses hukum terhadap kasus ini tetap berjalan. Polisi menetapkan AS, oknum salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang beralamat di Jakarta sebagai tersangka.

Polisi menjerat AS dengan UU 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran pasal 81 dengan ancaman hukuman sepuluh tahun penjara.

AS berperan merekrut dan memfasilitasi keberangkatan delapan warga Bantaeng tersebut. Dari keterangan para korban, tiap orang dari mereka dipungut biaya antara Rp2 juta sampai Rp3,5 juta perorang oleh AS dengan janji dipekerjakan di perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sarawak.

(dra)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top