Busines

Pemprov Dorong Percepat Pembangunan Industri Hilir di Kalbar

Pontianak – Wakil Gubernur Kalbar H Ria Norsan mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) mendorong percepatan pembangunan Industri Hilir di Kalbar.

“Kita mendorong percepatan pembangunan Industri hilir di Kalbar,” kata H Ria Norsan, Kamis (21/3), saat menjadi Pembicara dalam acara 3rd Borneo Forum Tahun 2019 di Hotel Ibis Pontianak.

Dikatakannya,untuk membangun industri hilir kelapa sawit di Kalbar memang penuh tantangan, namun apabila seluruh stakeholder, yakni Pemerintah pusat, Pemprov, Pemda serta BUMN dan Swasta yang bergerak di bidang sawit ini memilki komitmen yang tinggi dan mampu bersinergi dalam membangun industri hilir kelapa sawit di Kalbar akan dapat diwujudkan.

“Salah satu upaya yang nyata dari Pemprov Kalbar dalam percepatan pembangunan industri hilir dengan membangun Pelabuhan di Kijing,” jelasnya.

Didalam Perda No. 10 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalbar ditetapkan Terminal Temajok sebagai bagian dari Pelabuhan Pontianak yang dikembangkan di
Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah.

“Kawasan Pelabuhan Kecamatan Sungai Kunyit ditetapkan pula sebagai Kawasan Strategis Provinsi yang sudah mulai disusun pada Tahun 2012 dan 2014 yang lalu,” jelasnya.

Jangka waktu perencanaan adalah 20 tahun dan Luas Kawasan Pelabuhan yang direncanakan adalah 1.350 Ha kawasan darat, dan sisanya merupakan kawasan perairan.

Kemudian Urgensi rencana tata ruang kawasan strategis provinsi (RTR KSP) Pelabuhan Kecamatan Sungai Kunyit ini dikarenakan perlunya menghubungkan daerah terpencil dan terisolir ke pusat ekonomi daerah, dan perlunya peningkatan Pelayanan Transportasi Laut Nasional, dan Lokasi Area Perencanaan yang Startegis.

“Pelabuhan Pontianak sulit dimasuki kapal-kapal Besar dan sedimentasi di alur pelayaran menuju Pelabuhan Pontianak sehingga biaya Perawatan tinggi,” jelasnya.

Selain itu, luas lahan Pelabuhan Pontianak sulit dikembangkan karena berada pada
wilayah perkotaan dan Pelabuhan Pontianak direncanakan hanya sebagai feeder pelabuhan peti kemas (2/3 potensi ekspor terpaksa transhipment ke Jawa terlebih dahulu); CPO tidak dapat diekspor melalui Pelabuhan Pontianak (tidak ada refinery).

(Dika)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top