Regional

Ratusan Warga Tionghoa Pontianak Rayakan Tradisi Duan Wu Jie Mandi Tengah Hari

Merayakan Duan Wu Jie warga tionghoa di pontianak mandi tengah hari di sungai Jumat,(07/06) Foto: Andika Lay

Pontianak - Warga Tionghoa merayakan Tradisi mandi Wu Shi/Tengah Hari di tepian Sungai Kapuas jalan Selat Bali, Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara, Jumat (7/6).

Tradisi mandi Wu Shi adalah tradisi orang Tionghoa yang merupakan bagian dari perayaan Duan Wu Jie, yaitu tradisi makan kue Bak Cang dan mandi di sungai pada tengah hari.

Perayaan Duan Wu Jie ini juga disebut dengan Ng Nyat Ciat (bahasa Hakka) atau Ngow Gwek Cot (bahasa Tio Ciu), yang diperingati setiap tahun secara turun temurun.

Menurut Budayawan Tionghoa Kalbar, X.F Asali, mandi pada saat Wu Shi di sungai atau laut dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa tradisional dapat memberikan berkah, dan keselamatan.

Masyarakat berharap segala sifat buruk dan tabiat yang tidak baik, biar dihanyutkan mengikuti derasnya arus air yang mengalir.

“Intinya, kita harus introspeksi diri. Merenungi tingkah laku selama ini yang benar dan yang salah sehingga dapat memperbaiki diri menjadi manusia yang jauh dari bala petaka,” tutur XF Asali.

Dikatakannya, perayaan Duan Wu Jie ini juga dirayakan dengan makan Ki Cang atau Bak Cang, yakni kue berbentuk kerucut yang terbuat dari beras ketan pilihan yang didalamnya berisikan cincangan daging, kacang tanah, jamur kering, dan lainnya sesuai selera.

Bagi yang vegetarian dibuatkan Cang tawar atau tanpa isi di masak dengan ki sui atau air kapur yang terbuat dari pembakaran kulit kerang sehingga dinamakan Ki Cang (Tio Ciu) atau Ki Cung (Hakka) hingga menjadi kenyal dan berwarna kekuning-kuningan, serta dimakan dengan gula pasir atau gula Jawa.

Asal usul Duan Wu Jie itu sendiri ada beberapa versi, ada sumber yang menyatakan Duan Wu Jie berasal dari pemujuan terhadap Dewa Naga, ada yang mengatakan berasal dari peringatan kisah kesetiaan Wu Zi Xu, ada pula sumber yang mengatakan festival Duan Wu Jie untuk mengenang kisah anak berbakti Cao E, namun diantaranya yang paling terkenal adalah tentang kisah ke-patriotisme Qu Yuan.

Qu Yuan (339 SM – 277 SM) adalah seorang Menteri Negara Chu di Zaman Negara-negara Berperang. Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya, banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibu kota negara Chu.

Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji.

Sebelum bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo, Qu Yuan sempat menulis puisi Lament of Ying – berisi ungkapan rasa cemas dan khawatir Qu Yuan menghadapi peperangan ditanah airnya yang sudah ada didepan mata. Puisinya mengekspresikan perhatian dan kekhawatiran yang mendalam akan masa depan tanah airnya, rasa kasihan terhadap masyarakat dan rasa geramnya terhadap para pemimpin negeri yang hanya memikirkan diri sendiri dan membiarkan tragedi tersebut terjadi.

Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.

Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

(Dika).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top