Regional

Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Penanganan Serius

Para Peserta Berfoto Bersama Usai Kegiatan Workshop, Sabtu (20/07/2019) Photo: indra

SANGGAU – Workshop Anak Berkebutuhan Khususi digelar di Gedung DPRD Sanggau, Sabtu (20/7) pagi dengan menghadirkan Partika Dhimas Pangestu, S.Psi, M.Psi. Psikolog selaku Direktur Borneo Psychology Consulting dan Patricia Elfira Vinny, M.Psi, Psikolog, Psikolog Klinis Pratama RSJD Sei. Bangkong. Sedikitnya 30an orang yang berasal dari tiga kabupaten yakni Sanggau, Sekadau dan Sintang mengikuti acara tersebut.

Sesi pertama, Dhimas membahas tentang oppositional defiant disorder (ODD) berkenaan dengan gangguan defisit atensi dan gangguan perilaku mengacau. Hal ini sebuah model dari perilaku menolak, bermusuhan, ketidakpatuhan dan perilaku menantang.

Dikatakan dia, anak menunjukkan empat atau lebih dari ciri-ciri perilaku ODD setelah berumur enam tahun atau lebih. Gangguan yang sering dihubungkan yakni ODD, Conduct Disorder (CD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Depresi, Kecemasan dan gangguan belajar serta komunikasi.

Dalam realitasnya, perilaku negatif anak yang kerap muncul seperti sering mengamuk, membantah orang dewasa, melawan aturan, mengganggu orang lain sesuka hati, menyalahkan orang lain atas perilaku tidak pantas yang dilakukannya, mudah tersinggung, marah dan membenci serta sering iri hati atau membalas dendam.

Dhimas menerangkan persamaan antara ADHD dan CD yakni adanya aktivitas yang berlebihan. Kemudian, adanya sikap menentang aturan, tidak menyesal dengan tindakan sendiri, tidak disiplin, suka ngambek, butuh pengawasan yang lebih dan lain sebagainya.

Sementara itu, perbedaan ADHD dan CD yakni pada ADHD tidak mampu berkonsentrasi atau terbatas. Hal ini berbeda dengan CD yang masih mampu berkonsentrasi pada hal-hal yang disukai. Mengenai lamanya beraktivitas, ADHD akan tahan lama atau tidak mudah lelah sementara CD mudah kelelahan.

Bila dilihat dari aspek patologi otak ADHD, mielisasi akson tak sempurna sedangkan CD kondisi otak normal. Aspek arah perkembangan perilaku, ADHD mengalami keterlambatan sedangkan CD akan cenderung terjadi penyimpangan.

Masalah ODD dapat disebabkan karena minimnya pengetahuan orang tua tentang parenting. Kemudian, perintah orang tua yang tidak konsisten, tidak selaras dan melampaui kemampuan anak serta penerapan disiplin yang berlebihan. Orang tua mesti memperhatikan ini dengan mengoreksi kekeliruan sebelumnya. Memahami keadaan anak, belajar komunikasi efektif kepada anak dan quality time untuk anak.

Bicara penanganan, Dhimas menyarankan agar dilakukan pelatihan orang tua dalam meningkatkan perilaku prososial dan menempatkan batas-batas yang layak pada perilaku destruktif yang tidak diinginkan. Kemudian family therapy atau memperbaiki komunikasi keluarga dan menemukan masalah mendasar. Lalu, parent child interaction, konseling individu dan modifikasi perilaku.

Patricia Elfira Vinny, M.Psi, Psikolog dalam materinya menyampaikan bahwa ADD/ADHD sebagai gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

Hal tersebut, dikatakan dia, biasanya ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk atau sedang berdiri.

Penyebab yang bersumber dari orang tua klien ADHD bisa karena gangguan penyalahgunaan alkohol dan gangguan kepribadian antisosial. Selain itu, bisa juga karena psikososial seperti deprivasi emosional, situasi keluarga tidak stabil dan lainnya. Ia juga meyakini bahwa penyebab ADHD ini melibatkan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.

(dra)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top