Travel

Ini Sejarah Berdirinya Keraton Kadriah Pontianak

Keraton Kadriah Pontianak di Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur pada Sabtu, (19/10) Photo: Ngadri

Pontianak - Destinasi wisata istana kerathon Kadriah pontianak, Didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Keraton Kadriah terletak di Kelurahan kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat.

Keraton Kadriah Pontianak, sudah berumur sekitar kurang lebih 300 tahun. Memiliki bangunan yang megah, berukuran 60x25 cm dan bangunan istana kerathon Kadriah bertingkat tiga.

Ruangan Keraton Kadriah Pontianak.

"Secara historis istana kerathon Kadriah pontianak dibangun pada tahun 1771 Masehi dan selesai pada tahun 1778 Masehi, kemudian tidak lama kemudian. Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai sultan Pontianak yang pertama,"kata satu diantara keluarga besar Raja Pontianak Syarif Kasim Alkadrie kepada media ini pada Sabtu, (19/10).

Dalam sejarah perkembanganya, Istana Kadriah ini terus mengalami proses rekonstruksi dan juga renovasi sehingga bentuknya menjadi seperti yang sekarang ini. Sultan Syarif Muhammad Alkadri, yang merupakan sultan ke-6 dari Kesultanan Pontianak, telah tercatat sebagai sultan yang merenovasi Istana Kadriah secara besar-besaran.

Meriam di depan Keraton Kadriah Pontianak.

Pada saat ini kepemimpinan Kesultanan Pontianak dipegang oleh Sultan Sayyid Syarif Abubakar Alkadri, yang merupakan sultan ke-9 dan bergelar Pangeran Mas Perdana Agung.

Kemegahan istana seluas 60 x 25 meter yang terbuat dari kayu belian pilihan ini sudah dapt dilihat dari bagian depannya. Pengunjung akan terkesan dengan halamannya yang begitu luas dan bersih, serta rumput-rumputnya yang tertata rapi dan terawat dengan baik. Di sisi kanan, tengah, dan juga kiri di bagian depan istana, pengunjung dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis.

Foto-foto diruangan Keraton Kadriah Pontianak.

Pengunjung juga dapat melihat anjungan dari halaman depan istana. Anjungan merupakan ruangan yang menjorok ke depan yang dulunya digunakan oleh sultan untuk tempat istirahat atau menikmati keindahan panorama Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Di tempat ini, juga terdapat sebuah genta yang dulunya digunakan sebagai alat penanda marabahaya. Di samping kanan anjungan, juga terdapat sebuah tangga yang menghubungkan teras istana dengan anjungan istana.

(Ris)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top