Nasional

Badan Restorasi Gambut Gelar Sosialisasi Gambut Provinsi Kalbar

Pontianak – Badan Restorasi Gambut (BRG) menggelar kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Gambut Tingkat Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka persiapan menghadapi puncak musim kemarau 2020 dan potensi kebakaran hutan-lahan (karhutla) gambut.

Selain dari BRG, sejumlah pejabat setempat seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Barat Yosafat Triadhi Andjioe, ST, MM, MT, Kasubbid Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappeda Kalimantan Barat Sunanto, S.Hut, M.Si, Kepala BPBD Kalimantan Barat Christianus Lumano, S.E, M.Si., ikut menjadi narasumber utama di acara ini.

Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten, Tim Restorasi Gambut Daerah, Kementerian/Lembaga terkait, organisasi non-pemerintah, perusahaan dan akademisi. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyampaikan informasi kebijakan dan kegiatan restorasi ekosistem gambut yang telah dilakukan BRG.

Di Kalimantan Barat, area prioritas kerja BRG tersebar di 6 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yaitu KHG Sungai Kapuas – Ambawang, KHG Sungai Kapuas – Mando, KHG Sungai Ambawang – Kubu, KHG Sungai Punggurbesar – Kapuas, KHG Sungai Mempawah – Peniti, dan KHG Sungai Sambas Besar – Seiyung.

Tercatat sejak 2017 hingga 2019, sudah ada 1,049 Infrastruktur Pembasahan Gambut (IPG) yang dibangun oleh BRG – bersama Tugas Pembantuan (TP) yang diemban oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat – yang terdiri dari 491 sumur bor dan 558 sekat kanal yang siap digunakan untuk membasahi ekosistem gambut di provinsi ini terutama pada puncak musim kemarau yang diperkirakan jatuh pada bulan Agustus.

Fokus BRG bersama TP tahun 2020 adalah pembangunan 67 IPG berupa sekat kanal di empat KHG yaitu 6 sekat kanal di KHG Sungai Kapuas – Mandor, Kab. Kubu Raya; 10 sekat kanal di KHG Sungai Sambas Besar – Seiyung, Kab. Sambas; 33 sekat kanal di KHG Sungai Punggurbesar – Kapuas, Kab. Kubu Raya; dan 18 sekat kanal di KHG Sungai Matan – Rantau Panjang , Kab. Kayong Utara.

IPG yang dibangun oleh BRG bersama TP berfungsi untuk melakukan upaya pembasahan ekosistem gambut sebagai upaya untuk mencegah karhutla. Pada musim kemarau 2020 ini, sejak dua bulan terakhir (periode Juni – Juli) tercatat adanya penurunan tinggi muka air di 6 KHG prioritas restorasi. 5 KHG, yaitu KHG Sungai Kapuas – Ambawang, KHG Sungai Kapuas – Mandor, KHG Sungai Ambawang – Kubu, KHG Sungai Punggurbesar – Kapuas, dan KHG Sungai Sambas Besar – Seiyung, menunjukkan tinggi muka air berada dibawah 0,4 meter dari permukaan tanah, menunjukan status bahaya dan perlu pembasahan cepat.

TP juga telah siap untuk melakukan Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK) yang berada disekitar IPG yang telah dibangun. IPG yang dibangun oleh BRG bersama dengan TP dibangung, diawasi dan dipelihara oleh kelompok masyarakat setempat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat disekitar ekosistem gambut.

TP bersama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga melaksanakan fasilitasi, koordinasi, perencanaan, operasi dan pelaporan kegiatan berkoordinasi dengan Manggala Agni, Kapolda Kalimantan Barat, Masyarakat Peduli Api, perusahaan dan masyarakat untuk bergerak bersama mencegah terjadinya karhutlan, sesuai dengan Surat Gubernur kepada Bupati/Walikota se-Kalimantan Barat terkait pengendalian Karhutla 2020. Operasi Pembasahan Cepat juga dilakukan untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerja restorasi gambut yang belum terbangun IPG.

Upaya pembasahan ekosistem gambut di Kalimantan Barat oleh BRG bersama TP juga dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat melalui program Revitalisasi Ekonomi dan Desa Peduli Gambut. Desa merupakan lokus atau tempat utama upaya restorasi ekosistem gambut dari tingkat tapak. Saat ini ada 90 DPG yang dibina oleh BRG di Kalimantan Barat.

Tujuan penting dari program Desa Peduli Gambut ini adalah untuk memfasilitasi desa-desa agar bisa meningkatkan kesejehteraan dan status perkembangan desanya. Masyarakat DPG di Kalimantan Barat telah berhasil memproduksi olahan lahan gambut seperti kopi, VCO, produk olahan nanas, produk olahan pertanian seperti singkong dan pisang, olahan jahe, serta madu. Petani DPG di Kalimantan Barat juga melakukan kegiatan pengelolaan lahan tanpa bakar yang berguna untuk memanfaatkan lahan gambut rusak agar produktif menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan. Selanjutnya, tahun 2020, BRG bersama TP akan memberikan 46 paket revitalisasi ekonomi kepada 46 kelompok masyarakat.

Pemerintah Kalimantan Barat juga terus melaksanakan pengembangan desa mandiri dan akan berkolaborasi dengan program Desa Tangguh Bencana untuk cegah karhutla di desa. Saat ini terdapat 214 desa mandiri di Provinsi Kalimantan Barat.
Saat ini BRG telah berhasil melakukan restorasi ekosistem gambut di Kalimantan Barat seluas 47,521 ha di area luar konsesi. Hingga 2019 telah dilakukan intervensi pada areal seluas 778.181 atau 89% dari total areal non-konsesi seluas 892.247. Terkait pelaksanaan kegiatan supervisi di lahan konsesi perkebunan Kalimantan Barat, sudah mencapai 77% atau 47,302 hektare dari target seluas 61,364 hektare.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top