Hiburan

Niat Shalat Dhuha dan Tata Cara Melaksanakanya

Photo: ilustrasi shalat dhuha

Ijma’ ulama sepakat bahwasanya tempat dari niat adalah dihati. Belum dianggap cukup apabila hanya diucapkan dengan lisan. Melafalkannya bukanlah suatu syarat mutlak. Artinya, bacaannya tidak harus dilafalkan.

Pendapat dari madzhab Hanafi dan Maliki, Tidak ada syariat melafadzkan niat sebelum kedua tangan terangkat dan takbirotul ihram, terkecuali mereka yang ragu. Keduanya menyebutkan cukup dengan membatin. Karena dianggap menyalahi keutamaan dan tidak ada contoh dari Rasulullah SAW.

Sedangkan menurut madzhab Hambali dan Syafi’i niat yang diucap sebelum takbirotul ihram dihukumi kedalam sunnah. Mereka berpendapat fungsi dari mengucapkannya saat sholat Dhuha sendiri adalah untuk mengingatkan hati agar khusyu’ dal lebih mantab dalam menjalankan ibadah.

Terlepas dari perbedaan tersebut, bacaan niat sholat Dhuha pada umumnya adalah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah SWT.”

Tata Cara Shalat Dhuha

Pertama Niat,kemudian Takbiratul ikram, lebih baik jika diikuti dengan doa iftitah dilanjutkan Membaca Al Fatihah. Lalu surat atau ayat alquran, bisa membaca Asy Syamsu atau yag lainnya, Ruku’, I’tidal, Sujud, Duduk iftirasy, bersujud lagi disertai tuma’ninah.

Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua,kemudian membaca Al Fatihah,dilanjutkan surat atau ayat Alquran, bisa Adh Dhuha atau lainnya. Ruku’, I’tidal, Sujud, Duduk iftirasy, Sujud kedua, Tahiyat akhir disertai tuma’ninah, terakhir Salam.

Demikian tata cara shalat Dhuha. Setiap dua raka’at salam, diulang sampai bilangan delapan atau yang dikehendaki. Setelahnya dianjurkan untuk berdo’a. Caranya, dengan duduk khusyu dan konsentrasi lalu memperbanyak berdzikir. Setelah itu bisa dilanjutkan dengan membaca salah satu doa.

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

Artinya, “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu.”

اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ
اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعْسِرًا (مُعَسَّرًا) فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya, “Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak duha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top