Melestarikan Kawasan Sungai, BWSK Kalimantan 1 Gelar Lomba Cipta Lagu

  • Whatsapp

Pontianak – Melestarikan kawasan Sungai Kapuas yang memang menjadi ikon wisata dan merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang hingga 1.143 kilometer. Balai Wilayah Sungai Kalimantan 1 (BWS) menggelar kompetisi cipta lagu yang bertajuk “Kapuaskite” yang puncak penutupanya pada Senin, 21 Desember 2020.

Kompetisi lomba cipta lagu ini dibuka pada tanggal 16 November 2020 dan ditutup pada 21 Desember 2020 yang diikuti 42 peserta dari Kabupaten Kota se-Kalbar. Dan yang menjadi juara 1 Farid, Juara II Milfarasi, Juara III Lepo Beats dan juara lagu Favorit Zulhakim.

Bacaan Lainnya

Kepala Kantor BWS Kalimantan I Dwi Agus Kuncoro, mengatakan, bahwa lomba tersebut digelar salah satunya untuk melestarikan kawasan Sungai Kapuas yang memang menjadi ikon wisata dan merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang hingga 1.143 kilometer.

Photo : Musisi yang memenangkan lomba cipta lagu dengan tajuk #Kapuaskite.

“Dengan adanya lomba cipta lagu ini untuk melakukan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sungai yang salah satunya adalah bagaimana terdengar di telinga lagu-lagu yang enak didengar, memorinya mudah diingat, ya intinya bagaimana untuk melestarikan Sungai,” ujar Dwi Agus Kuncoro pada Rabu, 22 Desember 2020.

Ia melanjutkan, melalui lagu yang berisi lirik dan nada yang indah, merdu diharapkan bisa mensosialisasikan kepada masyarakat, bahwa pentingnya melindungi sungai dan bersinergi dimana pun berada yang bersentuhan dengan air. Karena air merupakan sumber kehidupan.

“Kegiatan lomba cipta lagu dengan tajuk Kapuas Kita ini menghimpun dan mengundang musisi-musisi di Kalimantan Barat, di mana mereka tinggal di tempat yang memang sesuai dengan kehidupan sehari-harinya,”ujarnya.

Lebih lanjut, kata Agus, wilayah Kalimantan ini secara jumlah air sungai itu melimpah, akan tetapi secara kualitas, terkhusus jika terjadi musim kemarau, kualitas air bersih itu terjadi penurunan, baik lokal maupun industri.

“Aktivitas-aktivitas di sungai mulai marak, ini seiring dengan meningkatkan pembangunan. Seperti penanganan pasir, ini yang perlu kita tata, harus terkendali sehingga tidak merusak, boleh menambang pasir, tapi dengan kaidah-kaidah tertentu. Di sinilah salah satu yang perlu kita dorong masyarakat untuk ikut menjaga,” kata Agus.

Selain penambangan pasir, lanjutnya, juga ada limbah-limbah pabrik yang dengan mudah dibangun di sungai. Tentu menurutnya hal tersebut akan merusak kualitas air bersih di Kawasan Sungai di Kalbar khususnya di Sungai Kapuas.

Sementara itu, Farid pemenang Cipta Lagu “Kapuaskite mengatakan, bahwa lagu yang ia ciptakan terinspirasi kondisi sungai Kapuas yang saat ini memang butuh perhatian.

“Ternyata memang butuh perhatian dan mengingat warna air kecoklatan. Terus saya juga searching melihat bagaimana sih cara perawatan yang baik gitu, saya juga lihat-lihat di jurnal-jurnal, bagaimana, apa sih yang paling berdampak terhadap pencemaran sungai. Termasuk limbah-limbah kimia dan segala macam,” kata dia.

Juri cipta lagu Kapuas Kite, Yan Machmud mengatakan, tiga juri cukup kesulitan untuk menentukan yang menjadi pemenang, karena semua lagu yang diciptakan para peserta pada umumnya lirik dan arasemenya cukup bagus dan berkualitas.

“Kami ber tiga agak kesulitan menentukan pemenang dalam kegiatan cipta lagu yang di gelar oleh BWS Kalimantan 1 ini. Tapi, akhirnya setelah di evaluasi dan di nilai ada satu peserta yang cipta lagunya sangat bagus. Yaitu peserta atas nama Farid,”tuturnya.

(Ar)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *