Polemik Internal PBNU: Cak Imin Respons Dinamika Hubungan PKB
Jakarta – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, akhirnya angkat bicara mengenai dinamika dan polemik internal yang belakangan mewarnai tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernyataan Cak Imin ini muncul di tengah sorotan publik terhadap relasi historis namun kerap diliputi tensi antara organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu dengan PKB, partai yang secara kultural lahir dari rahim Nahdlatul Ulama.
Komentar ini menjadi penting mengingat posisi Cak Imin sebagai pemimpin partai politik yang memiliki afiliasi kuat dengan basis massa Nahdlatul Ulama (Nahdliyin), sekaligus figur yang memiliki jejak panjang dalam sejarah NU dan PKB. Pernyataan tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus meredakan spekulasi yang berkembang terkait isu-isu yang mencuat di internal PBNU, yang disebut-sebut melibatkan perbedaan pandangan maupun arah kebijakan organisasi.
Latar Belakang Ketegangan PKB dan PBNU
Dinamika hubungan antara PKB dan PBNU memang bukan hal baru. Sejak kelahirannya pada tahun 1998, PKB sering disebut sebagai representasi politik Nahdlatul Ulama. Namun, PBNU sebagai organisasi keagamaan selalu menekankan posisinya yang independen dan berada di atas semua golongan politik, termasuk partai yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU itu sendiri. Ketegangan kerap muncul ketika ada persepsi tentang intervensi politik atau klaim kepemilikan atas suara Nahdliyin.
Isu internal PBNU yang memicu respons Cak Imin ini diyakini berkaitan dengan berbagai kebijakan strategis organisasi maupun komunikasi antar-tokoh di dalamnya. Hal ini diperparah dengan suasana politik menjelang kontestasi pemilihan umum, di mana setiap pernyataan dari tokoh sentral seperti Cak Imin akan memiliki resonansi politik yang signifikan di mata publik dan konstituen Nahdliyin.
Seruan Persatuan dan Identitas Nahdliyin
Dalam pernyataannya yang disampaikan pada 30 November 2025, Cak Imin menegaskan bahwa PKB selalu menjunjung tinggi marwah dan khittah Nahdlatul Ulama. Ia menekankan pentingnya persatuan di tubuh NU dan meminta semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang bisa memecah belah organisasi.
“Sebagai kader dan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, kami di PKB senantiasa menyerukan persatuan dan soliditas. Polemik internal harus diselesaikan secara bijak dan kekeluargaan, mengedepankan musyawarah mufakat, demi menjaga kehormatan Nahdlatul Ulama sebagai penjaga moral bangsa dan pemersatu umat. Jangan sampai perbedaan pendapat justru merusak pondasi yang telah dibangun para pendahulu,” ujar Cak Imin.
Cak Imin juga mengingatkan bahwa PKB lahir untuk menjadi wadah aspirasi politik Nahdliyin dan berkomitmen untuk terus berjuang demi kepentingan umat dan bangsa, sejalan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang diemban NU. Ia berharap, polemik yang ada dapat menjadi momentum introspeksi dan konsolidasi bagi seluruh elemen Nahdlatul Ulama.
Masa Depan Hubungan Dua Entitas Penting
Respons Cak Imin ini diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi yang lebih baik antara PKB dan PBNU di masa mendatang. Meskipun memiliki jalur dan fungsi yang berbeda, sinergi antara kedua entitas ini dinilai krusial bagi kemajuan umat dan bangsa. PBNU sebagai kekuatan moral dan kultural, serta PKB sebagai kekuatan politik, idealnya dapat saling mendukung dalam peran masing-masing tanpa harus saling bergesekan secara destruktif.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Arif Rahman, menyatakan bahwa pernyataan Cak Imin merupakan upaya untuk menempatkan PKB dalam posisi yang konstruktif di tengah polemik PBNU. “Ini adalah langkah diplomatis dari Cak Imin untuk menegaskan loyalitas kultural PKB kepada NU, sekaligus mengingatkan semua pihak tentang pentingnya menjaga persatuan di tubuh Nahdlatul Ulama, terutama menjelang tahun politik,” kata Dr. Arif.
Masa depan hubungan kedua organisasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan para pemimpinnya dalam mengelola perbedaan dan menemukan titik temu. Dialog yang intens dan saling pengertian diyakini akan menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan dan efektivitas perjuangan Nahdlatul Ulama di berbagai lini, baik keagamaan, sosial, maupun politik.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
