February 2, 2026

Delik Kalbar

Satu Portal, Banyak Cerita

Komisi V DPR Ingatkan Ancaman Bibit Siklon 93S: Gelombang Tinggi Intai Pesisir Selatan

JAKARTA – Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendesak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak meremehkan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi dampak dari Bibit Siklon Tropis 93S. Peringatan ini menyoroti ancaman gelombang tinggi yang signifikan di perairan selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pembaruan informasi cuaca dari BMKG yang mengindikasikan bahwa Bibit Siklon Tropis 93S berpotensi memicu kondisi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah maritim Indonesia. Desakan dari Komisi V DPR RI, yang membidangi infrastruktur dan transportasi, menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan antisipasi dini guna meminimalisir risiko yang mungkin timbul.

Ancaman Bibit Siklon dan Peringatan BMKG

Berdasarkan analisis BMKG, Bibit Siklon Tropis 93S saat ini terdeteksi di sekitar perairan utara Australia, namun dampaknya terasa hingga wilayah Indonesia bagian selatan. Fenomena ini diperkirakan dapat memicu angin kencang dan peningkatan tinggi gelombang yang drastis.

Prakiraan BMKG menunjukkan, beberapa hari ke depan, gelombang laut di perairan selatan Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mencapai ketinggian 2,5 hingga 4 meter. Kondisi ini sangat berbahaya bagi aktivitas pelayaran, perikanan, serta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Selain gelombang tinggi, Bibit Siklon 93S juga berpotensi menyebabkan hujan intensitas sedang hingga lebat di beberapa daerah, yang dapat memicu banjir dan tanah longsor.

Komisi V DPR RI menggarisbawahi pentingnya merujuk pada informasi resmi dari BMKG sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang memberikan data dan peringatan terkait kondisi meteorologi dan klimatologi. Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi melalui kanal-kanal resmi BMKG.

“Peringatan dini dari BMKG mengenai Bibit Siklon Tropis 93S ini bukan sekadar informasi, melainkan seruan untuk bertindak. Jangan ada lagi sikap denial atau meremehkan potensi bahaya. Pemerintah daerah, BPBD, TNI/Polri, Basarnas, dan seluruh stakeholder terkait harus segera mengimplementasikan langkah-langkah antisipasi yang konkret dan terkoordinasi,” ujar salah satu anggota Komisi V DPR RI pada 12 December 2025.

Kesiapsiagaan dan Antisipasi Dini Jadi Kunci

Untuk menghadapi potensi dampak dari Bibit Siklon Tropis 93S, Komisi V DPR RI menyerukan beberapa langkah antisipasi:

  1. Peningkatan Kewaspadaan Masyarakat Pesisir: Nelayan diimbau untuk tidak melaut terlebih dahulu atau menunda perjalanan jika kondisi gelombang tinggi. Masyarakat di pesisir juga harus waspada terhadap potensi rob dan ombak besar.
  2. Koordinasi Antar Lembaga: Pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan Basarnas diminta untuk mengintensifkan koordinasi dalam pemantauan, penyebaran informasi, dan persiapan evakuasi jika diperlukan.
  3. Pengamanan Infrastruktur: Pengelola pelabuhan dan otoritas transportasi laut diminta untuk memastikan keamanan fasilitas dan kesiapan kapal-kapal yang beroperasi.
  4. Edukasi dan Simulasi Bencana: Edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi cuaca ekstrem perlu terus digalakkan, termasuk simulasi evakuasi mandiri di daerah-daerah rawan.

Dampak dari Bibit Siklon Tropis 93S tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga dapat memengaruhi sektor ekonomi lokal, terutama perikanan dan pariwisata bahari. Oleh karena itu, langkah proaktif dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk memitigasi kerugian yang lebih besar.

Komisi V DPR RI akan terus memantau perkembangan situasi dan mendesak pemerintah untuk memastikan bahwa setiap peringatan dini ditanggapi dengan serius dan ditindaklanjuti dengan langkah-langkah mitigasi yang efektif. Keselamatan dan keamanan masyarakat adalah prioritas utama yang harus dijamin.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda