ATR 42-500 Rute Jogja-Makassar Hilang Kontak di Maros: Pencarian Intensif dan Profil Pesawat
Pencarian Intensif Setelah Pesawat Hilang Kontak
MAROS – Sebuah pesawat ATR 42-500 dengan nomor penerbangan NA 708 yang dioperasikan oleh maskapai Nusantara Air dilaporkan hilang kontak saat dalam perjalanan dari Yogyakarta (YIA) menuju Makassar (UPG) pada 17 January 2026 sore. Insiden ini memicu respons cepat dari otoritas penerbangan dan tim pencarian serta penyelamatan di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, tempat terakhir kali pesawat terdeteksi.
Pesawat yang membawa 46 penumpang dan 4 awak tersebut terakhir kali berkomunikasi dengan menara kontrol lalu lintas udara pada pukul 15.30 WITA, sekitar 30 menit sebelum jadwal pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Lokasi hilangnya kontak diperkirakan berada di sekitar wilayah pegunungan Maros, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan para penumpang dan awak.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) segera meluncurkan operasi pencarian berskala besar, mengerahkan tim darat, helikopter, dan kapal patroli di area yang diduga menjadi lokasi terakhir pesawat. Kondisi cuaca di sekitar lokasi dilaporkan bervariasi, dengan potensi awan cumulonimbus di beberapa titik yang mungkin memperumit upaya pencarian.
“Kami mengerahkan segala sumber daya yang ada untuk menemukan pesawat NA 708 secepat mungkin. Prioritas utama kami adalah keselamatan seluruh penumpang dan awak. Kami berharap masyarakat tidak berspekulasi dan memberikan dukungan kepada tim di lapangan,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi dalam konferensi pers darurat yang digelar malam ini.
Pihak maskapai Nusantara Air menyatakan belasungkawa mendalam dan telah membuka posko krisis untuk keluarga penumpang di Yogyakarta dan Makassar. Mereka menegaskan komitmen untuk bekerja sama sepenuhnya dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas terkait dalam investigasi insiden ini.
Mengenal ATR 42-500: Spesialis Rute Pendek
Pesawat ATR 42-500 yang terlibat dalam insiden ini merupakan salah satu varian dari keluarga pesawat turboprop regional yang diproduksi oleh Avions de Transport Régional (ATR), sebuah perusahaan patungan antara Airbus dari Prancis dan Leonardo dari Italia. Model ini dikenal luas sebagai “kuda pekerja” untuk rute-rute pendek dan kepulauan, khususnya di daerah dengan infrastruktur bandara yang terbatas.
ATR 42-500 didesain khusus untuk efisiensi operasional pada jarak menengah dan pendek. Dengan kapasitas rata-rata 40 hingga 50 penumpang, pesawat ini sangat cocok untuk menghubungkan kota-kota regional atau melayani destinasi yang tidak dijangkau oleh pesawat jet yang lebih besar. Mesinnya, Pratt & Whitney Canada PW127E turboprop, terkenal akan keandalannya dan efisiensi bahan bakar.
Spesifikasi utama ATR 42-500 mencakup kecepatan jelajah sekitar 500 kilometer per jam dan jangkauan operasional sekitar 1.500 kilometer. Kemampuannya untuk lepas landas dan mendarat di landasan pacu yang relatif pendek dan terkadang belum sepenuhnya mulus menjadikan pesawat ini pilihan populer bagi banyak maskapai regional di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang memiliki banyak pulau dan bandara kecil.
Secara umum, pesawat ATR memiliki rekam jejak keselamatan yang baik dalam industri penerbangan. Insiden yang melibatkan hilangnya kontak pesawat, terutama di wilayah yang padat penduduk atau jalur penerbangan komersial, selalu menjadi perhatian serius dan memicu evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan, kondisi pesawat, dan faktor lingkungan lainnya.
KNKT telah mengirimkan tim investigasi ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan data awal begitu pesawat ditemukan. Fokus penyelidikan akan mencakup faktor manusia, mesin, dan lingkungan untuk menentukan penyebab pasti dari hilangnya kontak pesawat NA 708.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
