Hujan Deras Picu Kemacetan Horor Jakarta-Bekasi, Warga Frustrasi Tiga Jam di Jalan
Jakarta dan sekitarnya kembali dihadapkan pada momok kemacetan parah yang diperparah oleh guyuran hujan deras, menyebabkan kelumpuhan di sejumlah ruas jalan utama. Kondisi ini bukan hanya sekadar penundaan biasa, melainkan sebuah ujian kesabaran dan fisik bagi para komuter, seperti yang dialami Andi (34) pada 23 January 2026. Perjalanan rutinnya dari kawasan Tendean, Jakarta Selatan, menuju rumahnya di Jati Asih, Bekasi, yang seharusnya memakan waktu kurang dari satu jam, berubah menjadi sebuah “odyssey” penuh penderitaan selama tiga jam di atas sepeda motor.
Derita Komuter di Tengah Genangan dan Kemacetan
Andi, seorang pekerja swasta, harus berjibaku dengan kondisi jalanan yang berubah menjadi arena perang. Sejak pukul 17.00 WIB, saat hujan mulai mengguyur deras, kepadatan lalu lintas sudah terasa tidak wajar. Namun, genangan air yang mulai muncul di sejumlah titik, terutama di Jalan Raya Kalimalang, memperparah situasi hingga ke titik kritis. Lajur kendaraan menyempit drastis, memaksa pengendara motor untuk saling sikut mencari celah di antara mobil yang bergerak lambat.
Rasanya seperti terjebak di neraka. Tiga jam di atas motor, cuma maju beberapa kilometer, dengan air setinggi betis di mana-mana. Ini bukan lagi kemacetan, tapi penderitaan, ujar Andi dengan nada lelah, mengingat kembali pengalaman pahitnya.
Ia menuturkan, genangan air yang cukup tinggi di beberapa lokasi membuat motornya sempat mogok. Terpaksa ia menuntun motor di tengah arus kemacetan yang padat dan air yang dingin, menambah frustrasi dan kelelahan fisiknya. “Beberapa kali saya lihat pengendara lain juga motornya mogok. Ada yang sampai duduk di trotoar karena sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan,” tambahnya. Kondisi ini mencerminkan betapa rentannya infrastruktur perkotaan Jakarta dan Bekasi terhadap curah hujan tinggi, yang ironisnya merupakan fenomena rutin di musim penghujan.
Akar Masalah dan Dampak Ekonomi-Sosial
Insiden kemacetan ekstrem seperti yang dialami Andi bukanlah kejadian tunggal, melainkan cerminan dari masalah sistemik yang terus berulang. Para pakar transportasi dan tata kota seringkali menyoroti beberapa faktor utama. Pertama, drainase perkotaan yang belum memadai untuk menampung debit air hujan yang besar, menyebabkan genangan di mana-mana. Kedua, kapasitas jalan yang sudah jenuh akibat pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak seimbang dengan pembangunan infrastruktur jalan. Ketiga, kurangnya integrasi dan efektivitas transportasi publik yang membuat banyak warga masih bergantung pada kendaraan pribadi.
Dampak dari kemacetan parah ini tidak hanya sebatas kerugian waktu dan energi bagi individu. Secara ekonomi, kemacetan menyebabkan kerugian triliunan rupiah setiap tahunnya akibat hilangnya produktivitas, pemborosan bahan bakar, dan keterlambatan distribusi barang. Dari sisi sosial, kondisi ini meningkatkan tingkat stres dan kelelahan warga, berpotensi memicu masalah kesehatan mental, serta mengurangi waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama keluarga.
Pengalaman Andi dan ribuan komuter lainnya menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa masalah kemacetan di Jakarta dan sekitarnya memerlukan solusi komprehensif dan berkelanjutan. Peningkatan kapasitas dan kualitas drainase, percepatan pembangunan dan integrasi transportasi massal, serta kebijakan pembatasan kendaraan pribadi yang lebih tegas, harus menjadi prioritas utama. Tanpa langkah-langkah konkret, “horor kemacetan” akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Ibu Kota, terutama saat musim hujan tiba.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
