Banjir Kerap Hantui Cengkareng: Warga Desak Solusi Permanen dari Pemprov DKI
Cengkareng, Jakarta Barat – Kekhawatiran akan ancaman banjir kembali membayangi ribuan warga di sejumlah permukiman di Cengkareng, Jakarta Barat. Setiap kali hujan turun, tak peduli intensitasnya ringan sekalipun, air dengan cepat meluap dan merendam rumah-rumah penduduk, memaksa mereka menghadapi siklus genangan yang tak kunjung teratasi.
Peristiwa ini menjadi pemandangan berulang bagi warga di wilayah seperti Kelurahan Kedaung Kali Angke, Cengkareng Timur, dan Rawa Buaya. Meskipun Jakarta memasuki musim penghujan, fenomena genangan air yang langsung masuk ke dalam rumah warga hanya dalam hitungan menit setelah hujan dimulai, menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem drainase dan upaya penanganan banjir yang selama ini dilakukan pemerintah daerah.
Trauma Berulang dan Kerugian Material
Bagi warga Cengkareng, hujan bukan lagi berkah, melainkan ancaman yang memicu rasa was-was dan trauma. Genangan yang cepat naik seringkali tidak memberi waktu cukup bagi warga untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Kerugian material akibat rusaknya perabotan, perangkat elektronik, hingga dokumen penting menjadi beban rutin yang harus ditanggung.
“Sudah tidak terhitung berapa kali kami harus bersih-bersih lumpur setelah banjir. Perabot rumah tangga banyak yang rusak, belum lagi barang elektronik. Ini bukan cuma soal kerugian material, tapi juga mental kami yang terus dihantui rasa cemas setiap kali langit mulai mendung,” ujar Ibu Ani (54), salah seorang warga Kedaung Kali Angke, dengan nada putus asa kepada tim media Media Nasional pada 29 January 2026.
Lebih dari sekadar kerugian materi, banjir juga berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Anak-anak kesulitan pergi sekolah, para pekerja terhambat menuju kantor, dan risiko penyakit seperti diare serta leptospirosis selalu mengintai. “Kami hanya bisa pasrah. Hujan sebentar saja, air sudah masuk rumah setinggi mata kaki. Kalau sudah begini, semua aktivitas terhenti, fokus kami hanya membersihkan rumah,” tambah Bapak Budi (48), warga lainnya.
Menanti Solusi Konkret dan Kordinasi Pemda
Permasalahan banjir di Cengkareng diyakini bersifat multifaktorial, meliputi sedimentasi parah pada saluran air dan kali-kali kecil, penyempitan sungai akibat bangunan liar, serta minimnya daerah resapan air. Kali Mookervart dan Kali Angke, yang melintasi wilayah Cengkareng, seringkali menjadi biang kerok utama ketika debit air meningkat dan tidak mampu ditampung oleh kapasitas sungai yang menyempit serta pendangkalan.
Warga mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meninjau ulang dan mengimplementasikan solusi jangka panjang yang lebih konkret. Mereka berharap adanya pengerukan dan normalisasi kali secara berkala, perbaikan sistem drainase perkotaan yang terintegrasi, serta penegakan aturan terkait pembuangan sampah dan pendirian bangunan di bantaran sungai.
Menurut beberapa aktivis lingkungan setempat, kurangnya koordinasi antara dinas terkait, seperti Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Kota Jakarta Barat, turut memperparah kondisi. “Setiap ada banjir, penanganan hanya bersifat insidentil. Yang kami butuhkan adalah rencana induk penanggulangan banjir yang berkelanjutan dan diawasi pelaksanaannya,” kata seorang koordinator komunitas peduli lingkungan Cengkareng.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pihak Pemprov DKI Jakarta mengenai langkah-langkah penanganan banjir di Cengkareng menyusul keluhan warga ini. Masyarakat berharap suara mereka didengar dan pemerintah tidak lagi menunda solusi permanen agar mereka dapat menjalani hidup tanpa dihantui rasa takut setiap kali awan gelap menyelimuti langit Cengkareng.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
