Dilema Casemiro: Manchester United Terancam Kehilangan Dana Triliunan Rupiah
Manchester United menghadapi potensi kerugian finansial yang signifikan, diperkirakan mencapai hampir Rp2 triliun, jika gelandang bertahan mereka, Casemiro, memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dan pergi sebagai agen bebas pada musim panas 2026. Situasi kontrak pemain berusia 32 tahun ini telah menjadi sorotan serius di kalangan manajemen klub, mengingat investasi besar yang telah dikeluarkan untuk memboyongnya dari Real Madrid.
Dilema Kontrak dan Ancaman Kehilangan Rp2 Triliun
Casemiro didatangkan ke Old Trafford pada Agustus 2022 dengan biaya transfer yang tidak sedikit, sekitar €70 juta (sekitar Rp1,2 triliun dengan kurs saat ini), plus potensi bonus. Ia menandatangani kontrak berdurasi empat tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun, yang berarti kontraknya akan berakhir pada Juni 2026. Jika ia memilih untuk membiarkan kontraknya habis tanpa penawaran perpanjangan dari klub, atau menolaknya, Manchester United akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kembali sebagian dari investasi tersebut melalui biaya transfer.
Kerugian “hampir Rp2 triliun” yang dimaksud bukan hanya berasal dari nilai transfer yang hilang, melainkan kombinasi dari nilai residu pemain yang tidak terjual serta potensi biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari pengganti dengan kaliber serupa. Seorang gelandang bertahan kelas dunia seperti Casemiro, meskipun usianya tak lagi muda, masih memiliki nilai pasar yang substansial. Melepasnya secara cuma-cuma akan menjadi pukulan ganda bagi keuangan klub, yang sedang berupaya menyeimbangkan neraca keuangan di tengah ketatnya regulasi Financial Fair Play (FFP) dan Profit and Sustainability Rules (PSR) Premier League.
“Situasi ini bukan hanya tentang satu pemain, melainkan preseden finansial yang bisa sangat merugikan klub. Melepas aset bernilai tinggi secara gratis akan membebani neraca keuangan dan membatasi ruang gerak di bursa transfer. Klub harus bertindak strategis sebelum terlambat.”
Performa Casemiro dan Tantangan Manchester United
Sejak kedatangannya, Casemiro memberikan dampak instan yang signifikan bagi Manchester United, menghadirkan stabilitas, pengalaman, dan kepemimpinan di lini tengah yang sangat dibutuhkan. Performa gemilangnya di musim debut membantu United memenangkan Carabao Cup dan finis di posisi empat besar Premier League. Namun, di musim keduanya, performanya kerap diganggu cedera dan ia menunjukkan tanda-tanda penurunan fisik, meskipun di beberapa pertandingan terakhir ia masih mampu menunjukkan kelasnya.
Faktor usia menjadi pertimbangan krusial bagi klub. Pada musim panas 2026, Casemiro akan berusia 34 tahun. Dari sudut pandang klub, menjualnya pada musim panas 2024 atau 2025 mungkin menjadi opsi terbaik untuk mendapatkan kembali sebagian modal sebelum nilainya benar-benar tergerus. Namun, keputusan ini juga harus mempertimbangkan kebutuhan skuad dan keinginan sang pemain.
Manchester United berada dalam fase transisi di bawah kepemilikan minoritas INEOS yang dipimpin Sir Jim Ratcliffe. Ada desakan untuk melakukan restrukturisasi skuad secara besar-besaran, dengan fokus pada pemain-pemain muda yang memiliki nilai jual dan potensi perkembangan. Keputusan terkait Casemiro akan menjadi salah satu ujian pertama bagi kebijakan transfer yang baru ini. Klub harus menyeimbangkan antara mempertahankan pemain berpengalaman, mengelola beban gaji, dan memastikan mereka tidak kehilangan aset berharga tanpa imbalan.
Situasi kontrak Casemiro ini menyoroti kompleksitas manajemen pemain di sepak bola modern, di mana setiap keputusan dapat memiliki konsekuensi finansial dan strategis jangka panjang. Bagi Manchester United, menahan Casemiro hingga kontraknya habis tanpa perpanjangan berarti harus siap merogoh kocek lebih dalam di pasar transfer untuk mencari pengganti, sekaligus menanggung kerugian besar dari investasi awal mereka.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
