Fokus Haji 2024: Kesiapan Layanan Khusus untuk 170 Ribu Jemaah Risti
Jakarta, 26 January 2026 – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan kesiapan penuh menyambut pemberangkatan sekitar 170 ribu jemaah haji risiko tinggi (risti) pada musim haji tahun ini. Dari jumlah tersebut, 33 ribu di antaranya adalah jemaah lanjut usia (lansia) yang memerlukan perhatian ekstra. Fokus utama Kemenag adalah memastikan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan ibadah bagi kelompok rentan ini di tengah tantangan kesehatan dan kondisi cuaca di Tanah Suci.
Jemaah risti didefinisikan sebagai mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti jantung, diabetes, hipertensi, gangguan pernapasan, serta lansia di atas usia tertentu yang secara fisik lebih rentan terhadap kelelahan dan perubahan lingkungan. Data yang cukup signifikan ini menjadi perhatian serius Kemenag dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam menyusun strategi pelayanan yang komprehensif.
Berbagai langkah preventif dan kuratif telah disiapkan jauh-jauh hari untuk memastikan setiap jemaah mendapatkan dukungan yang memadai. Inisiatif ‘Haji Ramah Lansia’ yang digalakkan beberapa tahun terakhir pun semakin dioptimalkan untuk memberikan pelayanan prima kepada kelompok yang membutuhkan pendampingan khusus ini.
Fokus Kesiapan Kesehatan dan Medis
Pemeriksaan kesehatan menjadi garda terdepan dalam upaya perlindungan jemaah risti. Setiap jemaah telah menjalani skrining kesehatan menyeluruh sebelum keberangkatan, termasuk vaksinasi yang diwajibkan. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi risiko sejak dini dan memberikan intervensi yang diperlukan.
Kemenag bersama Kemenkes juga telah menyiapkan tim medis yang mendampingi setiap kloter. Tim ini terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang siap siaga 24 jam untuk memberikan pelayanan darurat maupun konsultasi kesehatan. Mereka dilengkapi dengan obat-obatan esensial dan peralatan medis dasar yang mungkin dibutuhkan selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji.
“Jemaah haji adalah tamu Allah. Sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan mereka dapat beribadah dengan tenang dan aman, terutama bagi mereka yang memerlukan perhatian ekstra. Kami tidak akan berkompromi dengan kualitas layanan kesehatan dan pendampingan,” tegas Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, menekankan komitmen pemerintah dalam melayani seluruh jemaah.
Layanan Komprehensif di Tanah Suci
Setibanya di Arab Saudi, jemaah risti dan lansia akan terus mendapatkan perhatian khusus. Kemenag berkoordinasi erat dengan Kemenkes untuk menyediakan fasilitas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Mekkah dan Madinah. KKHI ini beroperasi sebagai rumah sakit lapangan mini yang dilengkapi dengan dokter spesialis, fasilitas rawat inap, dan ambulans yang siap merujuk jemaah ke rumah sakit setempat jika diperlukan.
Selain itu, aspek akomodasi dan transportasi juga menjadi perhatian. Jemaah lansia dan risti diprioritaskan untuk mendapatkan kamar di lantai bawah atau dekat lift, serta di area yang mudah diakses. Transportasi bus shalawat yang menghubungkan hotel dengan Masjidil Haram juga disiapkan agar lebih ramah lansia, dengan petugas yang siap membantu naik-turun bus.
Petugas ibadah haji (PIH) yang mendampingi jemaah juga telah dilatih secara khusus untuk tanggap terhadap kondisi jemaah risti dan lansia. Mereka tidak hanya bertugas membimbing ibadah, tetapi juga membantu kebutuhan personal seperti mendorong kursi roda, memastikan asupan nutrisi, dan mengingatkan jadwal minum obat.
Dengan persiapan matang dan sinergi antar lembaga, diharapkan 170 ribu jemaah risti dan lansia ini dapat menunaikan seluruh rukun dan wajib haji dengan lancar, aman, dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat walafiat. Fokus pada layanan khusus ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam melayani seluruh jemaah, tanpa terkecuali, demi tercapainya haji yang mabrur.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
