February 18, 2026

Delik Kalbar

Satu Portal, Banyak Cerita

Insiden Rasisme di Liga Champions: Tindakan Prestianni Terhadap Vinicius Dikutuk Keras

Sebuah insiden rasisme kembali mencoreng dunia sepak bola internasional, memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak. Dalam laga krusial Liga Champions musim 2025/2026 antara Benfica dan Real Madrid, perhatian publik tertuju pada dugaan ujaran rasis yang dilontarkan oleh penyerang muda Benfica, Gianluca Prestianni, kepada bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Insiden yang terjadi pada 18 February 2026 ini segera memantik reaksi keras, terutama dari mantan bintang sepak bola Inggris, Micah Richards, yang tak ragu menyebut tindakan tersebut sebagai “pengecut”.

Vinicius Junior, yang dikenal luas karena bakatnya di lapangan hijau, sayangnya juga telah menjadi ikon dalam perjuangan melawan rasisme di sepak bola, setelah berulang kali menjadi target pelecehan serupa dalam beberapa musim terakhir. Insiden teranyar ini menambah daftar panjang kasus diskriminasi yang ia alami, menggarisbawahi urgensi dan tantangan besar dalam memberantas fenomena buruk ini dari olahraga paling populer di dunia.

Kecaman Keras dari Mantan Bintang Sepak Bola

Micah Richards, yang kini berprofesi sebagai pandit sepak bola terkemuka, tidak menahan diri dalam mengutarakan kekecewaannya. Dalam sebuah siaran langsung pasca-pertandingan, Richards mengecam keras perilaku Prestianni, menekankan bahwa tindakan rasisme adalah sebuah kegagalan moral dan olahraga.

Tindakan itu tidak hanya memalukan, tetapi juga pengecut. Menyerang seorang pemain berdasarkan warna kulitnya di panggung sebesar Liga Champions menunjukkan kurangnya integritas dan keberanian sejati. Sepak bola seharusnya menjadi wadah persatuan, bukan kebencian.

Richards melanjutkan dengan menyatakan bahwa tidak ada tempat bagi rasisme dalam sepak bola modern, dan setiap pelaku harus menerima hukuman yang setimpal. Pernyataan Richards ini mendapatkan dukungan luas dari penggemar dan komunitas sepak bola global, yang juga merasa geram dengan kejadian yang terus berulang ini.

Desakan UEFA untuk Tindakan Tegas

Insiden ini memicu desakan agar UEFA, sebagai badan penyelenggara Liga Champions, mengambil tindakan tegas dan transparan. Harapan publik adalah agar investigasi menyeluruh segera dilakukan dan sanksi berat dijatuhkan jika tuduhan tersebut terbukti benar. Tekanan juga mengarah pada kedua klub, Benfica dan Real Madrid, untuk menunjukkan komitmen mereka dalam memerangi rasisme dan mendukung pemain yang menjadi korban.

Kasus Vinicius Junior adalah cerminan dari masalah sistemik yang masih menghantui sepak bola. Meskipun FIFA dan UEFA telah meluncurkan berbagai kampanye anti-rasisme, insiden-insiden semacam ini menunjukkan bahwa upaya tersebut masih belum cukup efektif. Perlu ada implementasi aturan yang lebih ketat, sanksi yang lebih berat, serta edukasi yang berkelanjutan di semua tingkatan, mulai dari akademi hingga tim profesional.

Publik menanti respons resmi dari UEFA dan klub-klub terkait, berharap insiden Prestianni dan Vinicius ini menjadi titik balik penting dalam upaya membersihkan sepak bola dari segala bentuk diskriminasi. Komitmen nol toleransi dan tindakan nyata adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa stadion sepak bola menjadi tempat yang aman dan inklusif bagi semua.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda