Mario Wuysang Iri: Format Kandang-Tandang IBL Tingkatkan Gairah Basket Nasional
Jakarta – Legenda basket nasional, Mario Wuysang, baru-baru ini mengungkapkan perasaannya mengenai evolusi Liga Bola Basket Indonesia (IBL). Mantan point guard yang dikenal dengan visi permainannya yang brilian ini mengaku “iri” karena tidak sempat merasakan format kandang-tandang atau home and away yang kini menjadi standar di IBL saat dirinya masih aktif bermain. Komentar Wuysang ini menyoroti dampak signifikan dari format kompetisi modern terhadap perkembangan olahraga basket di Tanah Air.
Sentimen Legenda dan Transformasi IBL
Mario Wuysang, sosok yang telah mengukir namanya dengan tinta emas dalam sejarah basket Indonesia melalui sejumlah gelar juara dan penampilan memukau, menyatakan dukungannya yang penuh terhadap format kandang-tandang. Baginya, format ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan sebuah transformasi fundamental yang membawa liga ke level yang lebih profesional dan menarik. Sebelum adopsi format ini secara luas, IBL kerap diselenggarakan di beberapa kota pilihan atau dalam sistem turnamen terpusat, yang, meski efektif pada masanya, tidak memberikan kedalaman pengalaman seperti saat ini.
Penerapan format kandang-tandang dalam beberapa musim terakhir telah memungkinkan setiap tim untuk menjamu lawan-lawannya di markas mereka sendiri, menciptakan ikatan yang lebih kuat antara klub, kota, dan para penggemar. Wuysang, yang pensiun pada tahun 2018 setelah karier gemilang selama lebih dari dua dekade, merasakan langsung perbedaan atmosfer tersebut dari bangku penonton.
“Sungguh, saya merasa iri tidak sempat merasakan langsung atmosfer home-and-away di IBL saat masih aktif bermain,” ujar Wuysang. “Format ini mengubah segalanya; membuat tim lebih memiliki identitas daerah, dan fans merasakan ikatan yang lebih kuat dengan tim kesayangan mereka. Ini adalah langkah besar yang sangat saya dukung penuh.”
Dampak Mendalam Format Kandang-Tandang
Dampak dari format home and away tidak hanya terasa di kalangan pemain dan staf, tetapi juga meluas ke basis penggemar dan ekosistem bisnis olahraga. Sejak diterapkan, IBL telah menyaksikan peningkatan signifikan dalam jumlah penonton yang datang langsung ke arena. Setiap pertandingan kandang kini menjadi festival lokal, tempat komunitas berkumpul untuk mendukung tim mereka, menciptakan atmosfer yang meriah dan penuh gairah.
Peningkatan interaksi antara klub dan komunitas lokal juga mendorong lahirnya bakat-bakat baru dan pengembangan infrastruktur basket di daerah. Klub-klub kini memiliki tanggung jawab lebih besar untuk membina hubungan dengan basis penggemar mereka, yang pada gilirannya menstimulasi pertumbuhan ekonomi lokal melalui penjualan tiket, merchandise, dan konsumsi di sekitar arena. Dari sudut pandang kompetitif, format ini juga menambah dimensi strategi dan mentalitas bagi para pemain. Bermain di hadapan ribuan pendukung sendiri memberikan motivasi ekstra, sementara bertandang ke markas lawan menuntut ketahanan mental dan adaptasi terhadap tekanan dari penonton tuan rumah.
Pada 26 February 2026, IBL terus memantapkan posisinya sebagai salah satu liga olahraga profesional terkemuka di Indonesia. Dukungan dari legenda seperti Mario Wuysang tidak hanya menjadi validasi atas arah yang ditempuh liga, tetapi juga inspirasi bagi generasi pemain dan penggemar baru untuk terus mencintai dan mengembangkan olahraga basket di Indonesia.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
