April 4, 2026

Delik Kalbar

Satu Portal, Banyak Cerita

Mbappe Ungkap Nyaris Pensiun dari Timnas Prancis Akibat Rasisme Pasc-Euro 2020

Kylian Mbappe, salah satu bintang sepak bola paling bersinar di dunia, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan yang mengguncang jagat olahraga. Penyerang Paris Saint-Germain ini mengungkapkan bahwa ia nyaris memutuskan pensiun dari tim nasional Prancis setelah menjadi sasaran pelecehan rasisme menyusul kekalahan Les Bleus di ajang Euro 2020 (yang digelar pada 2021). Pengakuan ini, yang kembali mencuat ke publik pada 03 April 2026, menyoroti dampak serius dari diskriminasi dalam olahraga profesional.

Trauma Pascakegagalan Euro 2020

Euro 2020 menjadi periode yang pahit bagi timnas Prancis, yang saat itu berstatus juara dunia. Mereka tersingkir secara mengejutkan di babak 16 besar setelah kalah adu penalti dari Swiss. Mbappe, yang dikenal sebagai eksekutor andal, gagal mengeksekusi penalti krusial yang memastikan tersingkirnya Prancis. Kegagalan ini, alih-alih hanya menjadi kritik performa, malah memicu gelombang serangan rasisme yang menargetkan Mbappe dan beberapa rekan setimnya.

Serangan tersebut mayoritas terjadi di media sosial, berupa komentar kebencian, ancaman, dan sindiran rasis yang merendahkan identitas para pemain. Tekanan dan pelecehan yang tak henti-hentinya membuat Mbappe mempertanyakan kelanjutan kariernya di level internasional. Perasaan kecewa dan marah atas perlakuan tersebut mendorongnya untuk mempertimbangkan langkah drastis.

Dalam sebuah wawancara yang baru-baru ini dirilis, Mbappe secara gamblang menceritakan pergolakan batinnya:

“Saya berkata pada diri sendiri, saya tidak bisa bermain untuk orang-orang yang menganggap saya adalah kera,” ungkap Mbappe, menggambarkan kepedihan dan kemarahan yang ia rasakan. “Saya tidak ingin bermain untuk timnas Prancis lagi. Saya tidak akan pernah kembali.”

Pernyataan tersebut menunjukkan kedalaman luka psikologis yang diakibatkan oleh rasisme. Namun, dukungan dari keluarga, rekan setim, serta pelatih Didier Deschamps dan presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) kala itu, Noel Le Graet, menjadi faktor penting yang menahannya untuk tidak mengambil keputusan drastis tersebut. Le Graet, yang kini sudah tidak menjabat, sempat dikritik karena penanganannya terhadap masalah rasisme di masa lalu, namun dalam kasus Mbappe, ia diyakini telah melakukan pendekatan personal untuk meyakinkan sang bintang bertahan.

Perjuangan Melawan Rasisme dalam Sepak Bola

Insiden yang dialami Mbappe bukan kasus terisolasi. Rasisme telah lama menjadi momok dalam dunia sepak bola, dengan banyak pemain kulit hitam dan etnis minoritas lainnya sering menjadi korban. FIFA, UEFA, dan berbagai federasi nasional terus berupaya memerangi masalah ini melalui kampanye kesadaran, sanksi bagi pelaku, serta dukungan psikologis bagi korban.

Pengakuan Mbappe ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk kembali menyuarakan urgensi penanganan rasisme yang lebih serius dan konkret. Ini mengingatkan kita bahwa di balik gemerlapnya stadion dan sorotan media, para atlet juga adalah manusia yang rentan terhadap dampak negatif dari kebencian dan diskriminasi. Kisahnya menjadi pengingat pahit namun penting tentang perjuangan yang belum usai dalam mewujudkan olahraga yang inklusif dan bebas dari segala bentuk kebencian.

Sebagai kapten timnas Prancis saat ini, kehadiran Mbappe di lapangan bukan hanya tentang prestasi olahraga, tetapi juga representasi keberanian dan perlawanan terhadap diskriminasi. Keputusannya untuk bertahan menjadi simbol ketahanan dan komitmen, meskipun ia harus melewati masa-masa kelam yang hampir mengakhiri karier internasionalnya. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola untuk terus berbenah dan memastikan lingkungan yang aman bagi semua pemain, terbebas dari ancaman rasisme.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda