Perjuangan Senyap Pesut Mahakam: Konservasi Intensif Hadapi Ancaman Kepunahan
Samarinda, 10 February 2026 – Di jantung Kalimantan Timur, sebuah perjuangan senyap namun vital tengah berlangsung. Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), lumba-lumba air tawar endemik yang terancam punah, menjadi fokus utama upaya konservasi intensif di Sungai Mahakam, khususnya di wilayah Kutai Kartanegara. Komitmen menjaga satwa ikonik ini bukan sekadar tanggung jawab lokal, melainkan sebuah misi pelestarian keanekaragaman hayati yang mendesak bagi Indonesia dan dunia.
Ancaman di Balik Air Keruh Mahakam
Pesut Mahakam adalah salah satu dari sedikit spesies lumba-lumba air tawar di dunia, menjadikannya sangat istimewa dan rentan. Dengan populasi yang diperkirakan kurang dari 100 individu, setiap ancaman memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan hidupnya. Lingkungan Sungai Mahakam, yang merupakan jalur vital bagi transportasi dan industri, juga membawa serta berbagai tantangan serius bagi Pesut.
Ancaman utama meliputi polusi air akibat limbah industri, seperti pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit, yang secara langsung meracuni habitat Pesut. Selain itu, praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan jaring insang (gillnet) dan setrum, seringkali menjadi penyebab kematian Pesut akibat terjerat atau terkena sengatan listrik. Lalu lintas kapal yang padat, baik kapal tongkang maupun kapal motor, juga meningkatkan risiko tabrakan dan menyebabkan gangguan suara yang mengganggu perilaku alami Pesut. Fragmentasi habitat akibat pembangunan infrastruktur di sepanjang sungai juga turut mempersempit ruang gerak mereka.
Kolaborasi Multisektoral untuk Kelangsungan Hidup
Menyadari urgensi situasi ini, berbagai pihak telah bersinergi dalam upaya pelestarian Pesut Mahakam. Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, serta berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) menjadi garda terdepan dalam aksi nyata.
Upaya konservasi meliputi patroli rutin untuk memantau keberadaan Pesut dan mencegah aktivitas ilegal, penyuluhan kepada masyarakat lokal tentang pentingnya menjaga Pesut dan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta penelitian populasi untuk memahami dinamika dan perilaku Pesut. Selain itu, program mitigasi dampak industri melalui dialog dengan perusahaan-perusahaan di sepanjang sungai juga gencar dilakukan untuk mengurangi polusi dan menjaga kualitas air.
“Konservasi Pesut Mahakam bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga kesehatan ekosistem sungai yang menjadi tulang punggung kehidupan ribuan masyarakat. Ancaman kepunahan adalah cermin dari kerusakan lingkungan yang lebih luas yang harus kita tangani bersama.”
— Dr. Intan Puspita, Peneliti Senior dari Yayasan Konservasi Alam Kalimantan
Masa depan Pesut Mahakam masih berada di ujung tanduk. Keberhasilan upaya pelestarian sangat bergantung pada konsistensi komitmen, penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan, serta peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Dengan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas lokal, harapan untuk melestarikan mamalia air tawar ikonik ini di Sungai Mahakam tetap menyala.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
